Bukan Soal Kapan Bangun
“Sebaik-baik salat setelah salat wajib,” Sabda
Rasulullah ﷺ dalam hadis yang
diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, “Adalah salat malam.” Sambung
Beliau. Setiap muslim meyakini
bahwa, apa pun yang
diucapkan oleh Muhammad
ﷺ merupakan perkataan yang
penting. Perkataan itulah yang kelak akan kita kenal sebagai sabda Beliau dan menjadi
tuntunan kehidupan kaum muslimin di seluruh dunia.
Hadis Rasulullah ﷺ di atas adalah salah
satu tuntunan resmi untuk umat Islam bahwa, salat malam atau
salat tahajud adalah
sebaik-baik salat yang dapat kita laksanakan setelah salat wajib. Hal ini memberikan informasi kepada kita
bahwa, pahala salat tahajud begitu
besar. Sampai-sampai
perbandingannya disandingkan dengan shalat wajib lima waktu.
Salat tahajud seringkali diabaikan. Bagi sebagian
kaum muslimin jika tidak mengerjakan salat tahajud,
maka tidaklah
berdosa. Pengertian tersebut tentu tidak salah. Namun, alangkah baiknya jika kita
berpatokan pada untung
dan rugi
sehingga jika
tidak melaksanakan salat tahajud, bukan hanya
tidak berdosa tetapi kita akan merugi. Manusia paling tidak mau merugi. Maka daripada
itu, ia akan
berusaha semaksimal mungkin agar dapat melaksanakan salat tahajud dan
tidak merugi. Rugi tidak
bercumbu mesra kepada Allah Subhana wa Ta’ala di malam hari.
Kemauan yang Kuat
Seringkali kita gagal bangun untuk salat
tahajud. Tiba-tiba saja azan subuh sudah berkumandang.
Kemauan yang kuat adalah awal dari segala aktivitas yang ingin kita kerjakan.
Orang-orang yang berkemauan kuat agar dapat mengerjakan salat tahajud, akan menyesal
sekali ketika malam harinya tidak diisi dengan salat tahajud. Sebagai
seorang muslim sudah
seharusnya kita menanamkan kemauan yang kuat terhadap hal-hal baik sejak dini,
termasuklah salat tahajud. Bisa
jadi tidak bangunnya kita pada malam hari dikarenakan kemauan kita yang kurang,
niat yang masih setengah-setengah, atau malah tidak terbesit sama sekali di dalam hati
untuk mengerjakan salat tahajud di malam hari.
Jika demikian, wajarlah bila Allah Subhana wa Ta’ala belum menghendaki
kita bangun dari tidur. Bukankah dalam hadis qudsi riwayat Bukhari
dan Muslim Allah Subhana wa Ta’ala berpesan, “Aku sesuai dengan prasangka hamba pada-Ku.”
Mengenai makna hadis di atas, Al
Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa, maknanya
adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan
menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan doa jika hamba
meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya
berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya.” (Syarh
Muslim, 17:2). Tanamkan
kemauan yang kuat dalam hati, selipkan harapan dalam doa, InsyaAllah kita bisa bangun di malam hari
untuk melaksanakan salat tahajud. Terlebih lagi pada bulan ramadan yang
mulia ini. Sudah selayaknya niat dan kemauan kita dalam melaksanakan amal semakin
menggebu-gebu karena ganjaran pahala yang berlipat-lipat.
Teman sebagai Alarm
Benarlah kata pepatah, jika ingin
mengukur perilaku seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.
Seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan kecipratan bulir-bulir
harumnya dan mereka yang bersahabat dengan si pandai besi akan merasakan
hangatnya api. Jika teman kita rajin salat tahajud tentu akan termotivasilah diri ini untuk melakukan
hal demikian. Namun sebaliknya, jika tidak
maka kita pun akan bermalas-malasan.
Dalam hadis riwayat
Al-Hakim, “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu
teringat akan Allah,” kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan,
“Mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, dan melihat gerak-geriknya
teringat mati.”
Pandai-pandailah memilih teman. Jadikan
mereka sebagai alarm kita untuk melakukan hal-hal baik. Termasuklah juga dalam
salat tahajud. Kita
bisa meminta teman untuk membangunkan kita di malam hari baik
secara langsung ataupun lewat alat komunikasi. Pada bulan-bulan biasa mungkin aktivitas saling
membangunkan cukup sulit. Namun, di bulan ramadan yang penuh berkah ini, kaum muslimin
diwajibkan untuk berpuasa dan mengawalinya dengan sahur sebelum imsak. Hal ini
dapat dimanfaatkan sebagai momentum saling mengingatkan untuk salat tahajud setelah
atau sebelum sahur.
Tidur Lebih Awal
Beragam aktivitas duniawi telah menyita
waktu kita masing-masing. Kesibukan terhadap pekerjaan membuat kita seakan-akan bergerak di
zona waktunya sendiri-sendiri. Seorang mahasiswa akan disibukkan dengan
persoalan kuliahnya, tugas dari dosen, acara organisasi dan lain sebagainya.
Begitupun dengan seorang buruh, manajer, pengacara, sampai dengan presiden
memiliki kesibukan yang berbeda-beda.
Seorang muslim tidaklah gagap terhadap manajemen waktu. Ia
memiliki referensi terbaik yaitu Sang Rasulullah, Muhammad ﷺ. Kehidupan Sang Nabi adalah
cerita terlengkap dan terbaik dalam semua bidang. Setiap detik Sang Rasulullah
adalah detak-detik kehidupan yang berarti, tiada yang sia-sia. Semuanya
bermakna dan menghasilkan karya. Waktu yang produktif dari Rasulullah ﷺ tentu tak terlepas dari
kecerdasan beliau dalam mengatur waktu, termasuklah waktu tidur.
Pada dasarnya salat tahajud bukan
soal kapan kita bangun, tetapi soal kapan kita tidur. Semakin cepat kita tidur
tentu akan semakin cepat pula kita bangun. Perhatikanlah hadis Rasul
berikut. Diriwayatkan dari Abu Barzah Radhiallahu ’Anhu: “Bahwasannya
Rasulullah ﷺ membenci tidur
sebelum salat isya dan mengobrol setelahnya.”
(HR. Bukhari
568 dan Muslim 647). Rasulullah ﷺ telah mencontohkan pada kita dalam hal
tidur beliau lebih menyukai di awal waktu, yakni setelah salat isya.
Masih sulit dalam melaksanakan shalat tahajud
dikarenakan tidak terbangun di malam harinya? Cobalah untuk tidur lebih awal dari
biasanya. Kurangi kegiatan bergadang di malam suntuk. Tidur di awal waktu akan
berdampak positif terutama bagi kita yang masih sulit bangun dari tidur untuk salat
tahajud.
Hingga 16 Mei 2020 di Sisi Jalan Gatot Subroto.
#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu

Berikan komentar terbaikmu :)