Saturday, 16 May 2020


“Sebaik-baik salat setelah salat wajib,” Sabda Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, “Adalah salat malam.” Sambung Beliau. Setiap muslim meyakini bahwa, apa pun yang diucapkan oleh Muhammad merupakan perkataan yang penting. Perkataan itulah yang kelak akan kita kenal sebagai sabda Beliau dan menjadi tuntunan kehidupan kaum muslimin di seluruh dunia.

Hadis Rasulullah di atas adalah salah satu tuntunan resmi untuk umat Islam bahwa, salat malam atau salat tahajud adalah sebaik-baik salat yang dapat kita laksanakan setelah salat wajib. Hal ini memberikan informasi kepada kita bahwa, pahala salat tahajud begitu besar. Sampai-sampai perbandingannya disandingkan dengan shalat wajib lima waktu.

Salat tahajud seringkali diabaikan. Bagi sebagian kaum muslimin jika tidak mengerjakan salat tahajud, maka tidaklah berdosa. Pengertian tersebut tentu tidak salah. Namun, alangkah baiknya jika kita berpatokan pada untung dan rugi sehingga jika tidak melaksanakan salat tahajud, bukan hanya tidak berdosa tetapi kita akan merugi. Manusia paling tidak mau merugi. Maka daripada itu, ia akan berusaha semaksimal mungkin agar dapat melaksanakan salat tahajud dan tidak merugi. Rugi tidak bercumbu mesra kepada Allah Subhana wa Ta’ala di malam hari.

Kemauan yang Kuat

Seringkali kita gagal bangun untuk salat tahajud. Tiba-tiba saja azan subuh sudah berkumandang. Kemauan yang kuat adalah awal dari segala aktivitas yang ingin kita kerjakan. Orang-orang yang berkemauan kuat agar dapat mengerjakan salat tahajud, akan menyesal sekali ketika malam harinya tidak diisi dengan salat tahajud. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita menanamkan kemauan yang kuat terhadap hal-hal baik sejak dini, termasuklah salat tahajud. Bisa jadi tidak bangunnya kita pada malam hari dikarenakan kemauan kita yang kurang, niat yang masih setengah-setengah, atau malah tidak terbesit sama sekali di dalam hati untuk mengerjakan salat tahajud di malam hari. Jika demikian, wajarlah bila Allah Subhana wa Ta’ala belum menghendaki kita bangun dari tidur. Bukankah dalam hadis qudsi riwayat Bukhari dan Muslim Allah Subhana wa Ta’ala berpesan, “Aku sesuai dengan prasangka hamba pada-Ku.” 

Mengenai makna hadis di atas,  Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa, maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya.” (Syarh Muslim, 17:2). Tanamkan kemauan yang kuat dalam hati, selipkan harapan dalam doa, InsyaAllah kita bisa bangun di malam hari untuk melaksanakan salat tahajud. Terlebih lagi pada bulan ramadan yang mulia ini. Sudah selayaknya niat dan kemauan kita dalam melaksanakan amal semakin menggebu-gebu karena ganjaran pahala yang berlipat-lipat.

Teman sebagai Alarm

Benarlah kata pepatah, jika ingin mengukur perilaku seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya. Seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan kecipratan bulir-bulir harumnya dan mereka yang bersahabat dengan si pandai besi akan merasakan hangatnya api. Jika teman kita rajin salat tahajud tentu akan termotivasilah diri ini untuk melakukan hal demikian. Namun sebaliknya, jika tidak maka kita pun akan bermalas-malasan. 

Dalam hadis riwayat Al-Hakim, “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah,” kemudian Rasulullah melanjutkan, “Mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, dan melihat gerak-geriknya teringat mati.
 
Pandai-pandailah memilih teman. Jadikan mereka sebagai alarm kita untuk melakukan hal-hal baik. Termasuklah juga dalam salat tahajud. Kita bisa meminta teman untuk membangunkan kita di malam hari baik secara langsung ataupun lewat alat komunikasi. Pada bulan-bulan biasa mungkin aktivitas saling membangunkan cukup sulit. Namun, di bulan ramadan yang penuh berkah ini, kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa dan mengawalinya dengan sahur sebelum imsak. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum saling mengingatkan untuk salat tahajud setelah atau sebelum sahur.

Tidur Lebih Awal

Beragam aktivitas duniawi telah menyita waktu kita masing-masing. Kesibukan terhadap pekerjaan membuat kita seakan-akan bergerak di zona waktunya sendiri-sendiri. Seorang mahasiswa akan disibukkan dengan persoalan kuliahnya, tugas dari dosen, acara organisasi dan lain sebagainya. Begitupun dengan seorang buruh, manajer, pengacara, sampai dengan presiden memiliki kesibukan yang berbeda-beda. 

Seorang muslim tidaklah gagap terhadap manajemen waktu. Ia memiliki referensi terbaik yaitu Sang Rasulullah, Muhammad . Kehidupan Sang Nabi adalah cerita terlengkap dan terbaik dalam semua bidang. Setiap detik Sang Rasulullah adalah detak-detik kehidupan yang berarti, tiada yang sia-sia. Semuanya bermakna dan menghasilkan karya. Waktu yang produktif dari Rasulullah tentu tak terlepas dari kecerdasan beliau dalam mengatur waktu, termasuklah waktu tidur.

Pada dasarnya salat tahajud bukan soal kapan kita bangun, tetapi soal kapan kita tidur. Semakin cepat kita tidur tentu akan semakin cepat pula kita bangun. Perhatikanlah hadis Rasul berikut. Diriwayatkan dari Abu Barzah Radhiallahu Anhu: “Bahwasannya Rasulullah membenci tidur sebelum salat isya dan mengobrol setelahnya. (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647). Rasulullah telah mencontohkan pada kita dalam hal tidur beliau lebih menyukai di awal waktu, yakni setelah salat isya.  

Masih sulit dalam melaksanakan shalat tahajud dikarenakan tidak terbangun di malam harinya? Cobalah untuk tidur lebih awal dari biasanya. Kurangi kegiatan bergadang di malam suntuk. Tidur di awal waktu akan berdampak positif terutama bagi kita yang masih sulit bangun dari tidur untuk salat tahajud.

Hingga 16 Mei 2020 di Sisi Jalan Gatot Subroto.
#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu 



Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates