Wednesday, 30 May 2018


Sumber: https://www.upstation.id/
Pertanyaan yang harus selalu kita pertanyakan pada diri kita setiap hari adalah ‘masihkah istiqomah dalam kebaikan’ ?



Allah tidaklah mensyariatkan puasa hanya untuk merasakan lapar dan haus saja. Akan tetapi Allah telah menyiapkan pahala yang berlipat ganda bagi hamba-hamba yang telah berpuasa dan mengejerkan kebaikan di jalan Allah.

Berkata Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah, “wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah ta’ala mensyariatkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagai pembersih ruh-ruh kalian, dan menjaganya dari melampaui jasad dan syahwat keinginan hawa nafsu, dan tidaklah Allah mensyariatkannya, untuk merasakan lapar dan dahaga semata.” (Maqalat Ahmad Syakir hal 557).



Seorang hamba telah menerima taufiq untuk menaati Allah  dengan berpuasa untuk mencapai ketaqwaan. Puasanya dipenuhi dengan amalan kebaikan. Selama Ramadhan beberapa kali khatam Al-Qur’an, sedekah tidak pernah ketinggalan, shalat malam selalu ditingkatkan, namun ketika ia tidak mempuasakan diri perkara yang membatalkan pahala puasa, maka merugilah sesungguhnya.



Dari Hafshah bintu Siirin rahimahallah, ia berkata “puasa adalah perisai selama pemiliknya tidak merusaknya. Dan sesuatu yang bisa merusaknya ialah ghibah.” (Imam Abdurazaq 4/307).

Maka dari itu selamatkanlah puasamu dari hal-hal yang merusak ibadah puasa. Imam Mujahid rahimahullah berkata, “Ada dua perangai, barangsiapa yang menjaganya (yakni jangan sampai terjatuh padanya) maka akan selamat puasanya : (1) ghibah, dan (2) dusta.” (Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah 8887).



Semoga kita senantiasa berusaha menyempurnakan pahala puasa. Aamiin

Menyelamatkan Puasa
ditulis oleh: Utami Wulandari

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates