Bencana!
![]() |
| Sumber: Google |
Setiap detak-detik
kehidupan alam bergerak mendatangi takdirnya. Pagi menjemput sore, sore
menimang malam dan malam menanti fajar. Tak ada yang mengetahui pasti tentang
satu detik pun masa yang akan datang padanya atau pada bumi ini.
Bencana silih
berganti baik di darat, laut maupun di udara semuanya bisa terjadi kapan saja.
Mereka punya versinya masing-masing di ketiga kehidupan alam tersebut. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa ada 2.175 kejadian
bencana di Indonesia sejak awal tahun hingga 4 Desember 2017 (Sumber:
sains.kompas.com). Ribuan bencana tersebut terbagi menjadi ragam bentuk. Mulai
dari banjir, puting beliung, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, kebakaran
hutan dan lahan, sampai letusan gunung api.
Semua bencana alam
tersebut menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Bukan hanya materi belaka tapi
jauh dibanding itu semua ribuan nyawa dapat habis seketika oleh bencana. Masih
tersusun rapi dalam rak memori kita sebuah bencana besar yang menewaskan
230.000 nyawa di 14 negara termasuk Indonesia. Bencana yang dinobatkan sebagai
bencana terbesar sepanjang 100 tahun kebelakang dan merupakan yang terbesar
ketiga yang pernah tercatat di alat ukur gempa serta memiliki durasi terlama
sepanjang sejarah, 8,3 sampai 10 menit. Kelak anak cucu kita mengenal bencana
tersebut dengan sebutan Tsunami Aceh.
Bencana: Tanda Murka
Selain dampak yang
merugikan banyak manusia, bencana juga mengingatkan kita tentang Tuhan. Tentang
pencipta alam semesta ini dan tentang kekuasaannya yang meliputi langit serta
bumi. Tidakkah kita menyadari bahwa bencana demi bencana adalah tanda
kemurkaanNya? Abdul Muhaimin dalam buku Islam dan Urusan Kemanusiaan
menuliskan, “Dalam sejarah kitab suci
agama-agama, bencana selalu dikaitkan dengan kutukan atau kemarahan Tuhan atas
penyimpangan-penyimpangan perilaku manusia”.
Allah Subhana wa
Ta’ala telah memberikan kita pengetahuan akan kebenaran tersebut, “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan
kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan
ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan
kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaaan melakukan kezaliman” (QS.
Al-Qasas: 59)
Ada yang menarik
dari buku God intervene? How Religion
Explains Natural Disasters karangan Gari Stern. Ia mencoba menggali
pandangan beberapa tokoh agama terhadap bencana Tsunami yang melanda Aceh tahun
2004 silam. Azizan Abdul Razak, ulama muslim dari malaysia berkomentar dalam
buku tersebut bahwa, “Tsunami merupakan
pesan atau peringatan dari Tuhan bahwa Dialah yang menciptakan dunia dan Dia
juga yang bisa menghancurkannya”. Hampir senada dengan perkataan tersebut,
Pandit Hariskrishna Shastri pendeta Hindu dari India mengatakan, “Bencana itu disebabkan oleh kungkungan
kejahatan atau keburukan sangat besar yang dilakukan oleh manusia di muka bumi”.
Pada bagian lain di buku yang sama, ada pendapat Rowan William uskup agung
Canterburry bertutur, “Tidakkah kita
sadar bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu dengan beberapa tingkatan proses
sebab akibat”.
Hampir semua agama
memandang bahwa bencana merupakan hubungan sebab akibat antara seorang Hamba
atau sebuah kaum terhadap Penciptanya. Melepaskan keterkaitan hubungan Teologis
dengan bencana alam adalah kedurhakaan yang luar biasa. Kita harus menyadari
bahwa setiap bencana yang terjadi tidak terlepas atas kehendakNya yang bermula
dari perilaku manusia itu sendiri. Sepertihalnya Kaum Nabi Luth yang Allah
binasakan atas perilaku menyimpang dari mereka. Kisah mereka terekam jelas
dalam Al-Qur,an pada surat Hud ayat 82, “Maka
tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik
sehingga) yang diatas kebawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah
yang terbakar dengan bertubi-tubi”
Bencana: It’s
Warning
Bencana memang
sebuah murka namun bagi kita yang masih hidup dan bahkan selamat dari bencana
tersebut, sudah selayaknya bencana meresap dalam nurani menjadi pelajaran
hidup. Bahkan seorang Rev. Albert Mohler, Presiden Southern Baptist Teological
Seminary memandang bahwa, “Tsunami
merupakan peringatan Tuhan akan penghakimannya”. Bagi seorang Muslim
seharusnya mempunyai konsep yang lebih jelas akan pemaknaan sebuah bencana.
Allah Subahan wa Ta’ala telah berpesan kepada kita semua agar mengambil
pelajaran pada setiap kejadian atau peristiwa di muka bumi ini, di ujung ayat
dari Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 2, “...Maka
ambillah pelajaran hai orang-orang yang mempuanyai wawasan”.
Semoga bencana
demi bencana yang terjadi hari ini terutama di negeri kita Indonesia, dapat
kita jadikan sebagai pelajaran. Bencana tersebut adalah warning Sang Pencipta terhadap kita, bahwa memang ada yang perlu
dibenahi dari tingkah laku, moral, dan perilaku hidup yang semestinya sejalan
dengan fitrah manusia; kebaikan.
Biodata penulis
Penulis adalah
seorang pria yang lahir dua puluh tiga tahun Silam. Putra Astaman, nama
lengkapnya. Ia merasa nyaman ketika berhubungan dengan dunia kepenulisan,
desain grafis, dan perjalanan. Penulis senang sekali jika mendapat kritik dan
saran serta diberi kesempatan untuk berbagi, ia bisa dihubungi melalui IG:
Putra_ast, Email: Putraastaman212@gmail.com atau Nomor Handphone: 08988263454 (WA/SMS)

Berikan komentar terbaikmu :)