Sunday, 22 April 2018


 
Sumber: Google


Setiap detak-detik kehidupan alam bergerak mendatangi takdirnya. Pagi menjemput sore, sore menimang malam dan malam menanti fajar. Tak ada yang mengetahui pasti tentang satu detik pun masa yang akan datang padanya atau pada bumi ini.

Bencana silih berganti baik di darat, laut maupun di udara semuanya bisa terjadi kapan saja. Mereka punya versinya masing-masing di ketiga kehidupan alam tersebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa ada 2.175 kejadian bencana di Indonesia sejak awal tahun hingga 4 Desember 2017 (Sumber: sains.kompas.com). Ribuan bencana tersebut terbagi menjadi ragam bentuk. Mulai dari banjir, puting beliung, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, sampai letusan gunung api.

Semua bencana alam tersebut menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Bukan hanya materi belaka tapi jauh dibanding itu semua ribuan nyawa dapat habis seketika oleh bencana. Masih tersusun rapi dalam rak memori kita sebuah bencana besar yang menewaskan 230.000 nyawa di 14 negara termasuk Indonesia. Bencana yang dinobatkan sebagai bencana terbesar sepanjang 100 tahun kebelakang dan merupakan yang terbesar ketiga yang pernah tercatat di alat ukur gempa serta memiliki durasi terlama sepanjang sejarah, 8,3 sampai 10 menit. Kelak anak cucu kita mengenal bencana tersebut dengan sebutan Tsunami Aceh.

Bencana: Tanda Murka

Selain dampak yang merugikan banyak manusia, bencana juga mengingatkan kita tentang Tuhan. Tentang pencipta alam semesta ini dan tentang kekuasaannya yang meliputi langit serta bumi. Tidakkah kita menyadari bahwa bencana demi bencana adalah tanda kemurkaanNya? Abdul Muhaimin dalam buku Islam dan Urusan Kemanusiaan menuliskan, “Dalam sejarah kitab suci agama-agama, bencana selalu dikaitkan dengan kutukan atau kemarahan Tuhan atas penyimpangan-penyimpangan perilaku manusia”.

Allah Subhana wa Ta’ala telah memberikan kita pengetahuan akan kebenaran tersebut, “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaaan melakukan kezaliman” (QS. Al-Qasas: 59)

Ada yang menarik dari buku God intervene? How Religion Explains Natural Disasters karangan Gari Stern. Ia mencoba menggali pandangan beberapa tokoh agama terhadap bencana Tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Azizan Abdul Razak, ulama muslim dari malaysia berkomentar dalam buku tersebut bahwa, “Tsunami merupakan pesan atau peringatan dari Tuhan bahwa Dialah yang menciptakan dunia dan Dia juga yang bisa menghancurkannya”. Hampir senada dengan perkataan tersebut, Pandit Hariskrishna Shastri pendeta Hindu dari India mengatakan, “Bencana itu disebabkan oleh kungkungan kejahatan atau keburukan sangat besar yang dilakukan oleh manusia di muka bumi”. Pada bagian lain di buku yang sama, ada pendapat Rowan William uskup agung Canterburry bertutur, “Tidakkah kita sadar bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu dengan beberapa tingkatan proses sebab akibat”.

Hampir semua agama memandang bahwa bencana merupakan hubungan sebab akibat antara seorang Hamba atau sebuah kaum terhadap Penciptanya. Melepaskan keterkaitan hubungan Teologis dengan bencana alam adalah kedurhakaan yang luar biasa. Kita harus menyadari bahwa setiap bencana yang terjadi tidak terlepas atas kehendakNya yang bermula dari perilaku manusia itu sendiri. Sepertihalnya Kaum Nabi Luth yang Allah binasakan atas perilaku menyimpang dari mereka. Kisah mereka terekam jelas dalam Al-Qur,an pada surat Hud ayat 82, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang diatas kebawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi

Bencana: It’s Warning

Bencana memang sebuah murka namun bagi kita yang masih hidup dan bahkan selamat dari bencana tersebut, sudah selayaknya bencana meresap dalam nurani menjadi pelajaran hidup. Bahkan seorang Rev. Albert Mohler, Presiden Southern Baptist Teological Seminary memandang bahwa, “Tsunami merupakan peringatan Tuhan akan penghakimannya”. Bagi seorang Muslim seharusnya mempunyai konsep yang lebih jelas akan pemaknaan sebuah bencana. Allah Subahan wa Ta’ala telah berpesan kepada kita semua agar mengambil pelajaran pada setiap kejadian atau peristiwa di muka bumi ini, di ujung ayat dari Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 2, “...Maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang mempuanyai wawasan”.

Semoga bencana demi bencana yang terjadi hari ini terutama di negeri kita Indonesia, dapat kita jadikan sebagai pelajaran. Bencana tersebut adalah warning Sang Pencipta terhadap kita, bahwa memang ada yang perlu dibenahi dari tingkah laku, moral, dan perilaku hidup yang semestinya sejalan dengan fitrah manusia; kebaikan. 

Biodata penulis

Penulis adalah seorang pria yang lahir dua puluh tiga tahun Silam. Putra Astaman, nama lengkapnya. Ia merasa nyaman ketika berhubungan dengan dunia kepenulisan, desain grafis, dan perjalanan. Penulis senang sekali jika mendapat kritik dan saran serta diberi kesempatan untuk berbagi, ia bisa dihubungi melalui IG: Putra_ast, Email: Putraastaman212@gmail.com atau Nomor Handphone: 08988263454 (WA/SMS)

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates