Thursday, 25 February 2016

Foto: Googling
Sudah lazim, "patah tumbuh, hilang berganti" seperti itu kata pepatah kasih nasehat. Batang-batang gugur menemui usianya maka tunas-tunas telah bersiap menjemput estafetnya.
"Tiada hari yang lebih bercahaya di madinah," kata Anas ibn Malik, "daripada hari ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam datang kepada kami. Dan tidak ada hari yang lebih gelap dan muram daripada saat beliau dikabarkan wafat" lanjut Anas ibn Malik yang kemudian kita tahu dan dapati sebuah pelajaran mahal dari kisah meninggalnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau, Abu Bakr As-sidiq yang paling bening hatinya meski perih menyaksikan orang terkasih telah tiada.
Beliau, As-sidiq yang menjadi penenang para sahabat dengan kalimatnya yang berwibawa, "Barang siapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat, tapi barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup kekal".
Betapa tenangnya beliau. Begitu jernih pikirannya, mengalir menentramkan. Apakah karena beliau tak cinta dengan kekasih Allah tersebut? Atau cintanya, hanyalah sebatas sabun mandi? Yang habis lalu tak berbekas.
Jangan tanyakan! Jangan tanyakan! Jangan tanyakan rasa cinta Abu bakr pada Muhammad. Takkan sanggup kita menyamainya apalah menandingi.
"Mungkin justru karena dia telah siap. Inilah Abu bakr," Tulis Ust. Salim, "seseorang yang mata batinnya begitu jernih".
Disinilah pelajaran mahalnya bahwa, kekhawatiran, resah dan bimbang tak tentu arah tiada lain penyebabnya adalah kesiapan.
Berkacalah anak muda, sesepuh dalam lembaga dakwahmu bukanlah 'Mahestro' yang dimaksud pada tulisan ini. Mereka hanyalah orang-orang baik yang hendak menjadi sambungan mata rantai dakwah. Maka bersiaplah ditinggal, mandirilah ditemani dengan konsultasi, dan bacalah zamanmu dan mulailah berkreasi.

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates