Saturday, 3 January 2015

Sumber : Yahoo Search

“Hidup Mahasiswa!”
“Hidup Mahasiswa” sahut puluhan ribu mahasiswa baru pada acara tahunan di kampus tersebut.
“Saat ini kita tidak lagi seorang siswa rekan-rekan sekalian,  kita adalah mahasiswa yang senantiasa beraktivitas positif dan menghasilkan karya” ujar Presiden Mahasiswa saat memberikan kata sambutan di acara Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2) mahasiswa baru tahun 2014.
Semua mahasiswa baru sangat antusias mengikuti rangkaian acara. Judef yang hari itu diamanahkan untuk mengkoordinir mahasiswa baru jurusan Teknik Industri juga terlihat menyimak tiap kalimat. Dari raut wajah yang ia tunjukkan sepertinya ia sangat meresapi setiap kata-kata yang keluar dari orang nomor satu dikalangan mahasiswa di kampus tersebut.
Judef teringat 1 tahun yang lalu saat ia masih menjadi mahasiswa baru dan sedang dalam pencarian jati diri. Ingatannya bermula ketika ia pulang dari acara penyambutan mahasiswa baru.
***
“Brakk!!” Suara benda jatuh yang diikuti hela’an nafas manusia.
Waktu itu, dikosannya yang baru Judef merebahkan diri. Mungkin karena aktivitas dikampus dari pagi hingga sore hari yang membuatnya begitu lelah.
Pikiran Judef menerawang kata-kata ketua pelaksana diacara peyambutan tersebut, “Rekan-rekan harus beraktivitas positif, salah satunya adalah aktif berkontribusi di organisasi manapun”. Setelah itu Judef disibukkan dengan dirinya sendiri, berkhayal kalau saja iabisa aktif kemudian banyak manfaat yang bisa ia berikan, sebelum akhirnya dering telpon genggamnya menyadarkan.
Ternyata sebuah pesan singkat dari seorang wanita, “Dimana  yang? Nanti malam makan bareng yuk . Judef hanya menghela nafas dan belum sempat membalas pesan tersebut ia tertidur, larut bersama lelah dan mimpi-mimpinya.
***
Ketika duduk dibangku SMA, Judef adalah seorang siswa yang cukup cerdas. Nilainya yang baik dan selalu mengalami peningkatan adalah salah satu faktor yang membuatnya bisa masuk tanpa tes di perguruan tinggi negeri impiannya saat ini. Judef pun aktif di berbagai ekskul dan kegiatan di sekolahnya. Wajahnya yang  ganteng dan berkharisma menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap kaum hawa yang melihatnya. Hingga tak heran, saat kelas 3 SMA ia telah menjalin hubungan pacaran. Setiap hari judef  penuh dengan rasa senang karena cinta. Kondisi satu kelas yang ia rasakan menambah kebahagiaan tersendiri. Kehidupannya saat itu hanya untuk sang wanita pujaan. Ia habiskan hari-harinya bersama wanita tersebut terutama diakhir profesinya sebagai seorang siswa SMA. Sepertinya hanya maut yang mampu memisahkan hubungan asmara antara dua sejoli tersebut.  Apalagi saat ini mereka diterima dan kuliah di kampus yang sama.
***
Senja telah berlalu, unggas-unggas sudah berpadu ketempatnya. Matahari sore itu bersembunyi seperti biasa, hilang dan muncul atas kehendak Allah Subhana wa Ta’ala.
Judef masih asyik bersama dunia mimpinya, sebelum akhirnya tersadarkan oleh lantunan suara adzan.
“Astagfirullah” gumam Judef mengakhiri tidur lelahnya, sambil mengucek mata dan melihat jam.
Tanpa berfikir lama pemuda yang rajin ini langsung mengambil sarung dan bergegas ke mushala untuk melaksanakan Shalat. Kebetulan juga kosannya dekat dengan tempat ibadah umat islam sekitar kompleks tersebut.
***
Bersyukur rupanya Judef tidak ketinggalan untuk Shalat Maghrib berjamaah.
“Assalamu’alaykum dek” tegur seorang sembari senyum dan mengulurkan tangannya  
“Eh, Wa’alaykumsalam  kak ” sahut Judef cukup terkejut karena disapa dari belakang saat ia berjalan kembali ke kosan. Judef membalas senyum dan menjabat tangan orang tersebut.
“Mahasiswa baru ya?”
“Iya kak, kok tahu”
“Kelihatan raut wajahnya masih muda”
Sambil tersenyum judef jadi balik bertanya, “Kakak mahasiswa lama ya?”
“Kok tahu”
“Banyak tulisan skripsi di wajah kakak hehe” Balas Judef mencoba mengakrabkan diri.
Mereka berdua tertawa bersama, hampir saja mereka terlihat seperti kakak dan adik yang telah lama tak berjumpa.
Sembari berjalan menuju kosan itu mereka saling mengenalkan diri. Akhirnya Judef tahu ternyata kakak tersebut bernama Hanif, atau sering disapa kak Hans. Kak Hans adalah mahasiswa Fakultas Hukum sekaligus Ketua Umum DPMU di kampusnya.
Perkenalan singkat itu pun berahir dengan pemberian salam diantara keduanya.
***
Selama tinggal dan beraktivitas di kompleks itu, Judef  banyak bertanya tentang organisasi, cara komunikasi dan keadaan kampusnya kepada kak Hans. Banyak informasi yang didapatkan oleh Judef dari interaksinya dengan kak Hans.
Interaksi Judef tentang dunia kampus berlanjut pada tokoh-tokoh Di Fakultasnya. Mulai dari Kak Hardi yang dikenal sebagai Ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas, ada juga Kak Coy seorang Gubernur Mahasiswa Fakultas, Kak Rian Bupati Mahasiswa di Jurusan dan masih banyak lagi. Mereka semua adalah corong inspirasi bagi Judef selama beraktivitas di kampus.
Kehidupan Judef mulai mengalami transformasi paradigma. Judef mulai memahami hakikat seorang manusia yang sudah semestinya bermanfaat tehadap diri manusia itu sendiri dan terlebih lagi pada orang lain. Melakukan hal yang sia-sia adalah sebuah kerugian dan menjalankan maksiat merupakan wujud manusia yang tidak pandai bersyukur.
***
Pagi hari yang cukup cerah. Matahari yang terpancarkan ke muka bumi terasa hangat ditemani angin yang mendayu-dayu. Hari yang segar dan telah siap digunakan untuk beraktivitas, menebar manfaat.
Hari itu dosen yang mengajar mata kuliah yang bersangkutan ternyata tidak hadir dan hanya memberikan tugas. Meski sedikit kesal tetapi Judef tetap berfikir positif, “Mungkin saja dosen yang bersangkutan mempunyai urusan yang sangat penting” gumam Judef dalam hati.
Entah mengapa terlintas difikiran Judef untuk mengunjungi mushala dan menghabiskan waktu sesaat disana. “atau sekedar mengobrol dengan kak hardi si ketua umum lembaga dakwah fakultas” fikir Judef tak mengapa.
Semenjak kenal dengan kak Hardi diawal masuk kampus, Judef sudah  merasa nyaman dengan ketua umum lembaga dakwah tersebut. Keterbukan dan keramahan merupakan daya tarik tersendiri bagi Judef untuk bertegur-sapa dan berbagi kepada kak Hardi.
***
Kebetulan hari itu kak Hardi berada di mushala. Seperti biasa jika tak ada kuliah kak Hardi memang lebih sering menghabiskan waktunya di mushala,sekedar untuk bersilaturahim dan berbagi dengan mahasiswa yang berada disana.
“Assalamu’alaykum” sapa Judef sembari melangkah
“Wa’alaykumsalam, eh dek Judef apa kabar” sambut kak Hardi dengan senyum ikhlasnya
“Alhamdulillah, baik kak”
Judef dan kak Hardi duduk bersama diteras mushala sembari membicarakan aktivitas kuliah. Judef pun akhirnya menceritakan kekesalannya hari ini mengenai dosen yang tidak masuk.
“Berprasangka baik aja dek, mudah-mudahan beliau disibukkan dengan hal yang bermanfaat” kak Hardi memberikan nasihat.
Judef sangat senang sekali setiap mendengarkan nasihat kak Hardi. Setiap untaian kata yang kak Hardi keluarkan seperti mengalir lembut, mengels-elus ubun-ubun hingga yang mendengarkannya pun terasa damai dan tenteram.  “Iya kak, siap” sahut Judef.
“o iya, Lembaga Dakwah Fakultas lagi buka pendaftaran dek, Judef mau ikut?” tanya kak hardi dengan penuh harap
“Wah, Judef baru tahu tuh kak, Ikut deh biar seperti kakak, hehe” Judef merespon dengan antusias ajakan kak Hardi.
***
Setahun sudah Judef berada di organisasi Lembaga Dakwah Fakultas. Banyak kegiatan yang telah dilaluinya bersama organisasi dakwah tersebut. Aktivitas organisasi yang lain juga telah menyibukkannya pada kegiatan-kegatan bermanfaat. Seiring dengan itu kehidupannya banyak yang berubah. Jika dulu yang ada pada niatnya hanyalah dunia semata kini sudah jelas setiap yang ia lakukan  niatnya ia kembalikan untuk beribadah.  Ia yang dulu tak tahu tujuan hidup kini sudah sangat yakin bahwa Allah Subhana wa Ta’ala adalah tujuan satu-satunya seorang manusia.
Hingga pada akhir semester genap kemarin ia pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan pacarannya, yang akhirnya  ia ketahui merupakan hubungan yang tak ada dalam Islam. Awalnya terasa berat, hingga pernah Judef meluapkan rasa berat itu dalam sebuah tulisan pribadinya, “3 Mei kemarin, mungkin adalah hari terakhirku melihat wajahnya. Kami pisah. Aku tak tahu apakah ini untuk selamanya atau tidak. Namun yang jelas Allah telah mengabulkan do’aku lebih cepat dari yang ku pinta. Sedih, senang, bahagia bahkan galau kini bercampur aduk menyerang perasaanku. Aku sedih, karena meninggalkan orang yang begitu baik denganku. Namun, aku pun bahagia bisa lepas dari dosa investasi ini untuk sementara. Dan kini aku pun galau, antara cinta dan dosa serta komitmen ku kepada Allah Subhana wa Ta’ala”.
Namun Judef paham bahwa segala sesuatu butuh pengorbanan dan pembuktian. Ia ingat sebuah cerita yang pernah ia dengar dari mulut lembut kak Hardi tentang hakikat cinta yang sebenarnya. Dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan mengena dihati, kak Hardi menceritakan kisah Masyithah.
“Dek, di zaman Fir’aun dulu ada seorang pembantu Fir’aun yang sangat bertaqwa kepada Allah Subhana wa Ta’ala, namanya Masyithah. Hingga suatu hari ketaqwaan dan cintanya kepada Allah di uji. ‘Hei Masyitah, anakmu akan aku masukkkan dalam kuali panas ini’ kata Fir’aun mengawali ancamannya kepada masyithah karena tidak mengangggap Fir’aun sebagai Tuhan. Masyitah tetap mengucapkan ‘La ilaha illallah’. Maka anaknya yang pertama pun dimasukkan dalam kuali panas tersebut. Ruh anak tersebut keluar dan berucap ‘Wahai ibu, Allah sangat mencintaimu’.  Melihat dan mendengar hal tersebut, Masitah tersenyum dan bangga kepada anaknya yang telah membuktikan cintanya pada Sang Pencipta.
Kemudian Fir’aun pun tambah geram dan mengancam kepada Mashitah akan memasukkan anaknya yang  kedua kedalam kuali panas itu. Namun Masyitah justru dengan lantang mengucapkan ‘La ilaha illallah’. Anaknya yang kedua pun meninggal hidup-hidup dalam penggorengan tersebut. Ruhnya keluar dan berbisik pada ibunya ‘Allah saat ini sangat merindukan mu, Ibu’.
Masyitah bangga kepada kedua anaknya tetapi juga linangan air mata tidak dapat ia bendung. Kini tersisa anaknya yang masih kecil dan sebentar lagi akan jadi korban kemungkaran Fir’aun. Namun dengan ketegaran dan rasa cinta yang ia miliki kepada Allah Subhana wa Ta’ala, Masyitah pun menghadapi itu dengan kalimat tahlil kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Hingga ruh anaknya yang ketiga ini pun berbisik, ‘Wahai ibuku, Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagimu di surga’.
Akhirnya, kemurkaan Fir’aun pun tidak tebendung. Masyitah langsung dimasukkan ke dalam kuali panas tersebut. Diakhir hidupnya seperti itu, masyitah terus mengaungkan kalimat tauhid ‘La ilaha Ilallah’.
Seperti itulah cinta dek Judef, Ia adalah sebuah pembuktian pada Rabbnya bukan pada makhluk ciptaanNya. Cinta adalah pengorbanan atas segala ujian yang ia hadapi, bukan pengorbanan atas sebuah kenikmatan yang ia harapkan”.
***
Tak ada yang salah dengan cinta, perasaan kasih insan manusia. Namun, jika demikian, jangan pernah putus asa untuk menggiring cinta pada asalnya, mengalirkannya terus pada arus yang haq, hingga cinta pun hanyut padaNya.
Kembalilah cinta, tirulah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang berhasil mengubur dalam-dalam hingga mengelabui setan. Atau cinta Abdurrahman ibn Abu Bakar bersama istrinya, yang ikhlas mereka lepas karena takut lalai dalam jihad dan ibadah pada cintaNya.
Dan tentu, teladan cinta terbaik dari insan terbaik sepanjang masa, Rasulullah Shalallhu 'alaihi wa salam, saat ditanya "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar." Sambil menangis Rasulullah Shalallhu 'alaihi wa salam menjawab, "Masih adakah orang lain setelah Khadijah?". Hanya karena cinta diatas cinta, kemuliaan risalah, dan perintahNya lah hati beliau pun tertunduk atas cintaNya, Cinta pada Allah yang akan jadi suri tauladan kita semua.
***
“Hidup Mahasiswa” Ribuan suara dari berbagai arah bersatu dalam ruangan auditorium menyadarkan Judef dari lamunan panjangnya.
Hari itu Judef menjalankan amanahnya dengan penuh tanggungjawab hingga acara tersebut selesai. Lelah memang yang ia rasakan, tapi satu tahun berada di organisasi telah banyak mengajarkannya arti dari sebuah kelelahan atas amanah. Satu tahun bersama organisasi dakwah telah merubahnya menjadi lebih baik. Ia berhasil bertransformasi dari gelapnya dunia remaja menuju pada cerahnya cahaya hidayah, dari yang dulu pacaran menjadi jomblo menawan.   
Senja telah menyapa bersama silaunya yang mulai memudar. Ruang besar tadi mulai terasa hening dari euporia para pemuda intelektual. Suasana kampus mulai hening ditelan gelapnya malam.

>>>Sekian dulu<<< :D
Sumber: Yahoo Search

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates