Isra’ Mi’raj Cinta “In Story”
![]() | |
| Sumber : Yahoo Search |
“Hidup Mahasiswa!”
“Hidup
Mahasiswa” sahut puluhan ribu mahasiswa baru pada acara tahunan
di kampus tersebut.
“Saat ini kita tidak lagi seorang siswa rekan-rekan sekalian, kita adalah mahasiswa yang senantiasa beraktivitas positif dan menghasilkan karya” ujar Presiden Mahasiswa saat memberikan
kata sambutan di acara
Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2) mahasiswa baru tahun
2014.
Semua mahasiswa baru sangat antusias mengikuti rangkaian acara. Judef yang hari itu diamanahkan untuk mengkoordinir mahasiswa baru jurusan Teknik Industri juga terlihat menyimak tiap kalimat.
Dari raut wajah yang ia tunjukkan sepertinya ia sangat meresapi setiap
kata-kata yang keluar dari orang nomor satu dikalangan mahasiswa di kampus tersebut.
Judef teringat 1 tahun yang lalu saat ia masih menjadi mahasiswa baru dan
sedang dalam pencarian jati diri. Ingatannya bermula ketika ia pulang dari acara penyambutan mahasiswa baru.
***
“Brakk!!” Suara benda jatuh yang diikuti hela’an nafas manusia.
Waktu itu, dikosannya yang baru Judef merebahkan diri. Mungkin karena aktivitas dikampus dari pagi hingga
sore hari yang membuatnya begitu lelah.
Pikiran Judef
menerawang kata-kata ketua pelaksana diacara peyambutan tersebut,
“Rekan-rekan harus beraktivitas positif, salah satunya adalah aktif berkontribusi di organisasi manapun”. Setelah itu Judef disibukkan dengan dirinya sendiri, berkhayal kalau saja iabisa aktif kemudian banyak manfaat yang bisa ia berikan,
sebelum akhirnya dering telpon genggamnya menyadarkan.
Ternyata sebuah pesan singkat dari seorang wanita,
“Dimana yang? Nanti malam makan bareng yuk” . Judef hanya menghela nafas dan belum sempat membalas pesan tersebut ia tertidur,
larut bersama lelah dan mimpi-mimpinya.
***
Ketika duduk dibangku
SMA, Judef adalah seorang siswa
yang cukup cerdas. Nilainya yang baik dan selalu mengalami peningkatan adalah salah satu faktor
yang membuatnya bisa masuk tanpa
tes di perguruan tinggi negeri impiannya saat ini. Judef pun aktif di berbagai ekskul dan kegiatan di
sekolahnya. Wajahnya yang
ganteng dan berkharisma menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap kaum hawa
yang melihatnya. Hingga tak heran,
saat kelas 3 SMA ia telah menjalin hubungan pacaran. Setiap hari judef penuh dengan rasa senang karena cinta. Kondisi satu kelas
yang ia rasakan menambah kebahagiaan tersendiri. Kehidupannya saat itu hanya untuk
sang wanita pujaan. Ia habiskan hari-harinya bersama wanita tersebut terutama diakhir profesinya sebagai seorang siswa SMA. Sepertinya hanya maut yang mampu memisahkan hubungan asmara antara dua sejoli tersebut.
Apalagi saat ini mereka diterima dan kuliah di kampus yang sama.
***
Senja telah berlalu, unggas-unggas sudah berpadu
ketempatnya. Matahari sore itu bersembunyi seperti biasa, hilang dan muncul
atas kehendak Allah Subhana wa Ta’ala.
Judef masih asyik bersama dunia mimpinya, sebelum
akhirnya tersadarkan oleh lantunan suara adzan.
“Astagfirullah” gumam Judef mengakhiri tidur lelahnya,
sambil mengucek mata dan melihat jam.
Tanpa berfikir lama pemuda yang rajin ini langsung
mengambil sarung dan bergegas ke mushala untuk melaksanakan Shalat. Kebetulan
juga kosannya dekat dengan tempat ibadah umat islam sekitar kompleks tersebut.
***
Bersyukur rupanya Judef tidak ketinggalan untuk Shalat Maghrib
berjamaah.
“Assalamu’alaykum dek” tegur seorang sembari senyum dan mengulurkan tangannya
“Eh, Wa’alaykumsalam
kak ” sahut
Judef cukup terkejut karena disapa dari belakang saat ia berjalan kembali ke
kosan. Judef membalas senyum dan menjabat tangan orang tersebut.
“Mahasiswa baru ya?”
“Iya kak, kok tahu”
“Kelihatan raut wajahnya masih muda”
Sambil tersenyum judef jadi balik bertanya, “Kakak mahasiswa
lama ya?”
“Kok tahu”
“Banyak tulisan skripsi di wajah kakak hehe” Balas Judef
mencoba mengakrabkan diri.
Mereka berdua tertawa bersama, hampir saja mereka
terlihat seperti kakak dan adik yang telah lama tak berjumpa.
Sembari berjalan menuju kosan itu mereka saling
mengenalkan diri. Akhirnya Judef tahu ternyata kakak tersebut bernama Hanif,
atau sering disapa kak Hans. Kak Hans adalah mahasiswa Fakultas Hukum sekaligus
Ketua Umum DPMU di kampusnya.
Perkenalan singkat itu pun berahir dengan pemberian salam diantara
keduanya.
***
Selama tinggal dan beraktivitas di kompleks itu,
Judef banyak bertanya tentang
organisasi, cara komunikasi dan keadaan kampusnya kepada kak Hans. Banyak
informasi yang didapatkan oleh Judef dari interaksinya dengan kak Hans.
Interaksi Judef tentang dunia kampus berlanjut pada
tokoh-tokoh Di Fakultasnya. Mulai dari Kak Hardi yang dikenal sebagai Ketua
Umum Lembaga Dakwah Fakultas, ada juga Kak Coy seorang Gubernur Mahasiswa
Fakultas, Kak Rian Bupati Mahasiswa di Jurusan dan masih banyak lagi. Mereka
semua adalah corong inspirasi bagi Judef selama beraktivitas di kampus.
Kehidupan Judef mulai mengalami transformasi paradigma.
Judef mulai memahami hakikat seorang manusia yang sudah semestinya bermanfaat
tehadap diri manusia itu sendiri dan terlebih lagi pada orang lain. Melakukan
hal yang sia-sia adalah sebuah kerugian dan menjalankan maksiat merupakan wujud
manusia yang tidak pandai bersyukur.
***
Pagi hari yang cukup cerah. Matahari yang terpancarkan ke
muka bumi terasa hangat ditemani angin yang mendayu-dayu. Hari yang segar dan telah siap digunakan untuk beraktivitas, menebar
manfaat.
Hari
itu dosen yang mengajar mata kuliah yang bersangkutan ternyata tidak hadir dan
hanya memberikan tugas. Meski sedikit kesal tetapi Judef tetap berfikir positif,
“Mungkin saja dosen yang bersangkutan mempunyai
urusan yang sangat penting” gumam Judef dalam hati.
Entah
mengapa terlintas difikiran Judef untuk mengunjungi mushala dan menghabiskan
waktu sesaat disana. “atau sekedar
mengobrol dengan kak hardi si ketua umum lembaga dakwah fakultas” fikir
Judef tak mengapa.
Semenjak
kenal dengan kak Hardi diawal masuk kampus, Judef sudah merasa nyaman dengan ketua umum lembaga dakwah
tersebut. Keterbukan dan keramahan merupakan daya tarik tersendiri bagi Judef untuk
bertegur-sapa dan berbagi kepada kak Hardi.
***
Kebetulan
hari itu kak Hardi berada di mushala. Seperti biasa jika tak ada kuliah kak
Hardi memang lebih sering menghabiskan waktunya di mushala,sekedar untuk
bersilaturahim dan berbagi dengan mahasiswa yang berada disana.
“Assalamu’alaykum”
sapa Judef sembari melangkah
“Wa’alaykumsalam,
eh dek Judef apa kabar” sambut kak Hardi dengan senyum ikhlasnya
“Alhamdulillah,
baik kak”
Judef
dan kak Hardi duduk bersama diteras mushala sembari membicarakan aktivitas
kuliah. Judef pun akhirnya menceritakan kekesalannya hari ini mengenai dosen
yang tidak masuk.
“Berprasangka
baik aja dek, mudah-mudahan beliau disibukkan dengan hal yang bermanfaat” kak
Hardi memberikan nasihat.
Judef
sangat senang sekali setiap mendengarkan nasihat kak Hardi. Setiap untaian kata
yang kak Hardi keluarkan seperti mengalir lembut, mengels-elus ubun-ubun hingga
yang mendengarkannya pun terasa damai dan tenteram. “Iya kak, siap” sahut Judef.
“o
iya, Lembaga Dakwah Fakultas lagi buka pendaftaran dek, Judef mau ikut?” tanya
kak hardi dengan penuh harap
“Wah,
Judef baru tahu tuh kak, Ikut deh biar seperti kakak, hehe” Judef merespon
dengan antusias ajakan kak Hardi.
***
Setahun
sudah Judef berada di organisasi Lembaga Dakwah Fakultas. Banyak kegiatan yang
telah dilaluinya bersama organisasi dakwah tersebut. Aktivitas organisasi yang
lain juga telah menyibukkannya pada kegiatan-kegatan bermanfaat. Seiring dengan
itu kehidupannya banyak yang berubah. Jika dulu yang ada pada niatnya hanyalah
dunia semata kini sudah jelas setiap yang ia lakukan niatnya ia kembalikan untuk beribadah. Ia yang dulu tak tahu tujuan hidup kini sudah
sangat yakin bahwa Allah Subhana wa Ta’ala adalah tujuan satu-satunya seorang
manusia.
Hingga
pada akhir semester genap kemarin ia pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan
pacarannya, yang akhirnya ia ketahui
merupakan hubungan yang tak ada dalam Islam. Awalnya terasa berat, hingga
pernah Judef meluapkan rasa berat itu dalam sebuah tulisan pribadinya, “3 Mei kemarin, mungkin adalah hari
terakhirku melihat wajahnya. Kami pisah. Aku tak tahu apakah ini untuk
selamanya atau tidak. Namun yang jelas Allah telah mengabulkan do’aku lebih
cepat dari yang ku pinta. Sedih, senang, bahagia bahkan galau kini bercampur
aduk menyerang perasaanku. Aku sedih, karena meninggalkan orang yang begitu
baik denganku. Namun, aku pun bahagia bisa lepas dari dosa investasi ini untuk
sementara. Dan kini aku pun galau, antara cinta dan dosa serta komitmen ku
kepada Allah Subhana wa Ta’ala”.
Namun
Judef paham bahwa segala sesuatu butuh pengorbanan dan pembuktian. Ia ingat
sebuah cerita yang pernah ia dengar dari mulut lembut kak Hardi tentang hakikat
cinta yang sebenarnya. Dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan mengena
dihati, kak Hardi menceritakan kisah Masyithah.
“Dek,
di zaman Fir’aun dulu ada seorang pembantu Fir’aun yang sangat bertaqwa kepada
Allah Subhana wa Ta’ala, namanya Masyithah. Hingga suatu hari ketaqwaan dan
cintanya kepada Allah di uji. ‘Hei Masyitah, anakmu akan aku masukkkan dalam
kuali panas ini’ kata Fir’aun mengawali ancamannya kepada masyithah karena
tidak mengangggap Fir’aun sebagai Tuhan. Masyitah tetap mengucapkan ‘La ilaha
illallah’. Maka anaknya yang pertama pun dimasukkan dalam kuali panas tersebut.
Ruh anak tersebut keluar dan berucap ‘Wahai ibu, Allah sangat mencintaimu’. Melihat dan mendengar hal tersebut, Masitah
tersenyum dan bangga kepada anaknya yang telah membuktikan cintanya pada Sang
Pencipta.
Kemudian
Fir’aun pun tambah geram dan mengancam kepada Mashitah akan memasukkan anaknya
yang kedua kedalam kuali panas itu.
Namun Masyitah justru dengan lantang mengucapkan ‘La ilaha illallah’. Anaknya
yang kedua pun meninggal hidup-hidup dalam penggorengan tersebut. Ruhnya keluar
dan berbisik pada ibunya ‘Allah saat ini sangat merindukan mu, Ibu’.
Masyitah
bangga kepada kedua anaknya tetapi juga linangan air mata tidak dapat ia
bendung. Kini tersisa anaknya yang masih kecil dan sebentar lagi akan jadi korban
kemungkaran Fir’aun. Namun dengan ketegaran dan rasa cinta yang ia miliki
kepada Allah Subhana wa Ta’ala, Masyitah pun menghadapi itu dengan kalimat
tahlil kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Hingga ruh anaknya yang ketiga ini pun
berbisik, ‘Wahai ibuku, Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagimu di
surga’.
Akhirnya,
kemurkaan Fir’aun pun tidak tebendung. Masyitah langsung dimasukkan ke dalam
kuali panas tersebut. Diakhir hidupnya seperti itu, masyitah terus mengaungkan
kalimat tauhid ‘La ilaha Ilallah’.
Seperti
itulah cinta dek Judef, Ia adalah sebuah pembuktian pada Rabbnya bukan pada
makhluk ciptaanNya. Cinta adalah pengorbanan atas segala ujian yang ia hadapi,
bukan pengorbanan atas sebuah kenikmatan yang ia harapkan”.
***
Tak
ada yang salah dengan cinta, perasaan kasih insan manusia. Namun, jika
demikian, jangan pernah putus asa untuk menggiring cinta pada asalnya,
mengalirkannya terus pada arus yang haq, hingga cinta pun hanyut padaNya.
Kembalilah cinta, tirulah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang berhasil mengubur dalam-dalam hingga mengelabui setan. Atau cinta Abdurrahman ibn Abu Bakar bersama istrinya, yang ikhlas mereka lepas karena takut lalai dalam jihad dan ibadah pada cintaNya.
Kembalilah cinta, tirulah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang berhasil mengubur dalam-dalam hingga mengelabui setan. Atau cinta Abdurrahman ibn Abu Bakar bersama istrinya, yang ikhlas mereka lepas karena takut lalai dalam jihad dan ibadah pada cintaNya.
Dan
tentu, teladan cinta terbaik dari insan terbaik sepanjang masa, Rasulullah
Shalallhu 'alaihi wa salam, saat ditanya "Ya Rasulullah, mengapa engkau
tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan
besar." Sambil menangis Rasulullah Shalallhu 'alaihi wa salam menjawab, "Masih
adakah orang lain setelah Khadijah?". Hanya karena cinta diatas cinta,
kemuliaan risalah, dan perintahNya lah hati beliau pun tertunduk atas cintaNya,
Cinta pada Allah yang akan jadi suri tauladan kita semua.
***
“Hidup
Mahasiswa” Ribuan suara dari berbagai arah bersatu dalam ruangan auditorium
menyadarkan Judef dari lamunan panjangnya.
Hari
itu Judef menjalankan amanahnya dengan penuh tanggungjawab hingga acara
tersebut selesai. Lelah memang yang ia rasakan, tapi satu tahun berada di
organisasi telah banyak mengajarkannya arti dari sebuah kelelahan atas amanah.
Satu tahun bersama organisasi dakwah telah merubahnya menjadi lebih baik. Ia
berhasil bertransformasi dari gelapnya dunia remaja menuju pada cerahnya cahaya
hidayah, dari yang dulu pacaran menjadi jomblo menawan.
Senja
telah menyapa bersama silaunya yang mulai memudar. Ruang besar tadi mulai
terasa hening dari euporia para pemuda intelektual. Suasana kampus mulai hening
ditelan gelapnya malam.


Berikan komentar terbaikmu :)