Saturday, 23 August 2014

Bismillah,
Dalam Wikipedia ditulis bahwa, “Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam” Kemudian masih pada URL yang sama berlanjut dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan”.

Alhamdulillah, kegiatan mulia itu kini telah menghantarkan kita untuk senantiasa memperbaiki diri, saling berbagi keluh dan kesah, dan membuat hidup jadi lebih bermakna. Setelah 1 hingga 2 tahun bermain dalam lingkaran masing-masing, kini jadi pengatur permainan baru. Saat dulu mengingatkan teman untuk menghadiri mentoring, sekarang rendahkan hati untuk jadi reminder adiknya. Dan mungkin saja yang waktu itu ditunggu-tunggu, mulai saat ini harus siap dan berlapang dada untuk menunggu.

Sudah seharusnya di usia muda saat ini, kita disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Menuntut ilmu, belajar agama, menghafal ayat-ayat Allah, dan bahkan mempelajari hadist, semuanya adalah kesibukan yang bermanfaat. Termasuk pula dalam mentoring, baik tutor maupun peserta sama saja di mata Allah jika niatnya semata-mata untuk menuntut atau berbagi ilmu karena Allah Subhana wa Ta’ala. “Aku malu sebagai pemuda” kata Azizah Pratiwi dalam buku ~Catatan Cinta untuk Murabbi~ “yang seharusnya lebih semangat karena masih kuat. Akan tetapi, aku masih malas-malasan pergi halaqah yang sekali seminggu itu” Sambungnya untuk menyemangati diri.

Kini, di hadapan kita ada seribu anak muda berprestasi. Memiliki kecerdasan inteleqtual di atas rata-rata, mereka haus dengan ilmu, setelah berlari kesana-kemari mencari jati diri. Semoga kita semua siap untuk memikat hati mereka, memberikan perhatian yang lebih, berbagi waktu-tenaga-pikiran di jalanNya, dan menyelami satu-persatu pribadi mereka, hingga terus bernaung dalam ukhuwah islamiyah.   

Memikat Hati
secara garis besar ada dua hal yang menjadi indicator kesuksesan mentoring, yaitu :
Yang pertama : Tercapainya Target MPK Agama Islam.
Yang kedua : Muncul keinginan untuk mentoring lanjutan.
Untuk yang pertama tentu turunannya adalah pemberian materi yang tersampaikan dengan baik. Tidak hanya sekedar hadir dalam pertemuan, namun kualitas dari setiap materi yang disampaikan perminggunya pun diharapkan dapat dipahami oleh peserta. Bagaimana yang kedua? Rasa ingin terhadap sesuatu biasanya timbul karena sesuatu itu menarik, tidak membosankan, dan menimbulkan gairah kepadanya. Keberlanjutan mentoring juga tak lepas dari proses yang telah dilalui sebelumnya, menarikkah?
Bila kita rujuk kedua hal tersebut, sangat erat kaitannya dengan pola komunikasi yang dibawa, baik atau tidak, bersifat menggurui atau berbagi. Karena keberhasilan dakwah senantiasa bermula dari komunikasi yang baik. Komunikasi yang buruk terhadap peserta mentoring akan menyebabkan perasaan sia-sia dalam diri mereka.

Dirangkum dari mentoring yang telah dijalani, Penyebab komunikasi yang buruk biasanya disebabkan karena : ~Fisik yang kurang FIT,contohnya: penampilan amburadul tutor, kondisi tubuh kurang sehat, dan lain-lain; ~Penyampaian materi tidak urut; ~Hambatan psikologis, misalnya tutor gugup atau tidak PeDe; ~Tidak perhatian, berakibat pada peserta kurang menyimak atau bahkan tertidur

Dirangkum dari mentoring yang telah dijalani, Membangun komunikasi efektif bisa dimulai dari membawa suasana rileks, bercanda boleh namun tidak berlebihan, kesan pertama yang disampaikan cukup baik.

“Setulus nurani,” Tulis Salim A Fillah dibukunya yang ke-7 “dalam dekapan ukhwah, ada keterampilan yang harus kita kuasai untuk membangun harmoni. Setelah dimulai dengan pemahaman hati, kata-kata yang dengannya kita bicara juga perlu diatur dan ditata. Sebab dalam dekapan ukhuwah, kita tahu, soalnya bukan hanya mengatakan yang benar. Ia meliputi keseluruhan matra;  mengatakan yang benar, dengan cara yang indah, disaat yang paling tepat.” Kemudian beliau menutup tulisan itu “Dalam dekapan ukhuwah begitulah harmoni tumbuh”

Ikhwatifillah, pada akhirnya, hati yang akan bermain. Seberapa besar hati kita untuk menaungi “hati-hati” yang perlu naungan, selembut  apakah hati ini agar bisa mengasihi “hati-hati” yang sebenarnya rindu untuk dikasihi, dan sejauh mana kesabaran hati agar tak kenal lelah-jemu menyampaikan firman tuhan.
WaAllahu ‘alam bishowab
Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh

#AyoMentoring
#TerusMentoring



Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates