Mementoring Qalbu
Bismillah,
Dalam
Wikipedia ditulis bahwa, “Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam”
Kemudian masih pada URL yang sama
berlanjut “dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang
diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan”.
Alhamdulillah,
kegiatan mulia itu kini telah menghantarkan kita untuk senantiasa memperbaiki
diri, saling berbagi keluh dan kesah, dan membuat hidup jadi lebih bermakna.
Setelah 1 hingga 2 tahun bermain dalam lingkaran masing-masing, kini jadi
pengatur permainan baru. Saat dulu mengingatkan teman untuk menghadiri
mentoring, sekarang rendahkan hati untuk jadi reminder adiknya. Dan mungkin saja yang waktu itu ditunggu-tunggu,
mulai saat ini harus siap dan berlapang dada untuk menunggu.
Sudah
seharusnya di usia muda saat ini, kita disibukkan dengan kegiatan-kegiatan
bermanfaat. Menuntut ilmu, belajar agama, menghafal ayat-ayat Allah, dan bahkan
mempelajari hadist, semuanya adalah kesibukan yang bermanfaat. Termasuk pula
dalam mentoring, baik tutor maupun peserta sama saja di mata Allah jika niatnya
semata-mata untuk menuntut atau berbagi ilmu karena Allah Subhana wa Ta’ala. “Aku
malu sebagai pemuda” kata Azizah Pratiwi dalam buku ~Catatan Cinta untuk
Murabbi~ “yang seharusnya lebih semangat karena masih kuat. Akan tetapi, aku
masih malas-malasan pergi halaqah yang sekali seminggu itu” Sambungnya untuk
menyemangati diri.
Kini,
di hadapan kita ada seribu anak muda berprestasi. Memiliki kecerdasan
inteleqtual di atas rata-rata, mereka haus dengan ilmu, setelah berlari
kesana-kemari mencari jati diri. Semoga kita semua siap untuk memikat hati
mereka, memberikan perhatian yang lebih, berbagi waktu-tenaga-pikiran di
jalanNya, dan menyelami satu-persatu pribadi mereka, hingga terus bernaung
dalam ukhuwah islamiyah.
Memikat
Hati
secara garis besar ada
dua hal yang menjadi indicator kesuksesan mentoring, yaitu :
Yang pertama :
Tercapainya Target MPK Agama Islam.
Yang kedua : Muncul
keinginan untuk mentoring lanjutan.
Untuk yang pertama
tentu turunannya adalah pemberian materi yang tersampaikan dengan baik. Tidak
hanya sekedar hadir dalam pertemuan, namun kualitas dari setiap materi yang
disampaikan perminggunya pun diharapkan dapat dipahami oleh peserta. Bagaimana
yang kedua? Rasa ingin terhadap sesuatu biasanya timbul karena sesuatu itu
menarik, tidak membosankan, dan menimbulkan gairah kepadanya. Keberlanjutan
mentoring juga tak lepas dari proses yang telah dilalui sebelumnya, menarikkah?
Bila kita rujuk kedua
hal tersebut, sangat erat kaitannya dengan pola komunikasi yang dibawa, baik
atau tidak, bersifat menggurui atau berbagi. Karena keberhasilan dakwah
senantiasa bermula dari komunikasi yang baik. Komunikasi yang buruk terhadap
peserta mentoring akan menyebabkan perasaan sia-sia dalam diri mereka.
Dirangkum
dari mentoring yang telah dijalani, Penyebab komunikasi
yang buruk biasanya disebabkan karena : ~Fisik yang kurang FIT,contohnya: penampilan
amburadul tutor, kondisi tubuh kurang sehat, dan lain-lain; ~Penyampaian materi
tidak urut; ~Hambatan psikologis, misalnya tutor gugup atau tidak PeDe; ~Tidak perhatian,
berakibat pada peserta kurang menyimak atau bahkan tertidur
Dirangkum
dari mentoring yang telah dijalani, Membangun komunikasi
efektif bisa dimulai dari membawa suasana rileks, bercanda boleh namun tidak
berlebihan, kesan pertama yang disampaikan cukup baik.
“Setulus nurani,” Tulis
Salim A Fillah dibukunya yang ke-7 “dalam dekapan ukhwah, ada keterampilan yang
harus kita kuasai untuk membangun harmoni. Setelah dimulai dengan pemahaman
hati, kata-kata yang dengannya kita bicara juga perlu diatur dan ditata. Sebab
dalam dekapan ukhuwah, kita tahu, soalnya bukan hanya mengatakan yang benar. Ia
meliputi keseluruhan matra; mengatakan
yang benar, dengan cara yang indah, disaat yang paling tepat.” Kemudian beliau
menutup tulisan itu “Dalam dekapan ukhuwah begitulah harmoni tumbuh”
Ikhwatifillah, pada
akhirnya, hati yang akan bermain. Seberapa besar hati kita untuk menaungi “hati-hati”
yang perlu naungan, selembut apakah hati
ini agar bisa mengasihi “hati-hati” yang sebenarnya rindu untuk dikasihi, dan sejauh
mana kesabaran hati agar tak kenal lelah-jemu menyampaikan firman tuhan.
WaAllahu ‘alam bishowab
Wassalamu’alaykum
warohmatullahi wabarokatuh
#AyoMentoring
#TerusMentoring

Berikan komentar terbaikmu :)