Wednesday, 23 July 2014

PERTAMA : Persatuan Indonesia
Lupakan 1, lupakan 2, yang terpenting persatuan Indonesia.

Kini, baik media online atau televisi sedang bekerja keras menggiring sebuah opini ke tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah "persatuan Indonesia". Masyarakat diajarkan untuk bersatu, diajak agar menyatukan kekuatan satu sama lain, tidak saling sikut untuk kemajuan Indonesia. Sasaran dari opini ini adalah masyarakat dewasa, berkisar 30-50 tahun. mereka yang telah memiliki banyak pengalaman tentang ironinya negeri ini akan sangat mudah menerimanya dan angguk-angguk tanda setuju dan siap membela dengan landasan apapun.

Tentu ini opini yang positif demi keutuhan bangsa. Apalagi mengingat ia merupakan bagian dari pancasila. Namun untuk saat ini, apakah istilah "memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan" berlaku? Rasanya iya, masyarakat seolah dihanyutkan dalam bahasa persatuan pasca 22 juli dengan melupakan kenyataan apa yang terjadi sebelum dan pada saat itu. Tidak peduli demokrasi yang cacat hukum, asas jurdil-luber tersisa omong kosong atau kecurangan luar biasa, yang penting persatuan Indonesia. Masyarakat diajak berpikir terhadap persatuan NKRI dan melupakan segala aktivitas pilpres yang telah dilalui.

Wal-hasil, ketika opini telah tersebar merata dan masyarakat mulai sepakat, maka orang/kelompok yang mulai mengusik rasa persatuan tersebut, dengan berbagai kegiatan yang ia lakukan dan sebesar apapun fakta sebuah alasan (Ex : tidak menerima keputusan lembaga konstitusi), ia akan dianggap orang/kelompok pemutus persatuan, dan wajib untuk di tindak. Dan akhirnya, si penggiring opini mempunyai ruang untuk bergerak bebas mengobrak-abrik bahasa yang dulunya ia eluh-eluhkan.

KEDUA : Hati yang Legowo
Kita harus berlapangdada menerima segala keputusan.

Sasaran opini yang kedua ini adalah para remaja, pemuda kisaran 15-29 tahun. mereka adalah kelompok yang memadukan logis dan perasaan dalam berfikir, terutama mereka yang sulit apalagi malas dalam menganalisa sebuah informasi/berita akan dengan sangat mudah atau bahkan menyambut baik cara berfikir untuk berlapangdada, sekali lagi, tanpa memperhatikan carut-marut sebuah proses, latarbelakang sebuah sikap dan i'tikad baik seseorang. Intinya apapun itu, kita harus tetap berlapangdada. Mau adil, mau curang, atau penuh kepalsuan, tetaplah berlapangdada. opini ini menuntut manusia biasa layaknya makhluk sempurna.

Akibatnya akan timbul anggapan bahwa, orang/kelompok yang tidak menerima sebuah keputusan, sulit untuk legowo, apalagi bersikap lapangdada adalah mereka yang berwatakkan anak tk (taman kanak2), tidak gentlemen dan lain sebagainya. sehingga mereka yang dulunya simpati terhadap orang ini, akan jadi antipati atau bahkan pindah ke lain hati.

Konspirasi memang tak terlihat, perencanaannya pun begitu matang, namun sayang dasarnya kedengkian, caranya apapun halal dan tujuannya sebuah kejahatan.

Ya Allah, inilah janji Mu yang akan senantiasa kami eluhkan "Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal"
(TQS. Ali-Imran : 160)
WaAllahu a'lam . . .

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates