Sisi Kampus yang Terasingkan
Setiap kali
mata ini melihat ibu dan anak itu, maka sewaktu itu pula timbul rasa untuk
mengabadikannya. Melihat dari sudut yang permanen sosok yang begitu alami. Penampilannya
terbilang cukup untuk menggambarkan negeri ini.
![]() |
| Sumber: Hasil Foto di depan Kampus |
Sebut saja namanya
fulana. Entahlah, aku belum mempunyai waktu yang lebih untuk menanyakan namanya,
apalagi mengetahui lebih dalam tentang asal-usul si fulana dan juga wanita yang
selalu bersama fulana-kemungkinan itu ibunya.
Mereka terlihat
kompak. Pagi dan sore senantiasa mengisi pandangan mata setiap orang yang ada
dikota ini, terkhusus lagi kami yang sering keluar masuk kampus. Tak jarang
pula “pasangan fulana” pun berdiam diri disudut-sudut jalanan atau keliling
menyisiri luar kampus mencari-cari suatu hal yang bisa dimanfaatkan. Mungkin
itu dilakukan demi mempertahankan hidup mereka atau mungkin berharap ada yang
merasa iba, dan entahlah. Yang jelas sejauh pandangan penulis, mereka tetap sama
seperti yang kemarin dan mungkin juga esok akan tetap seperti itu. Wajah kusut,
rambut acak-acak, pakaian sudah mulai berubah warna, dan cukup. Itu sudah cukup
menggambarkan mereka.
Tidak tahu
sampai kapan mereka akan terus menghiasi mata ini, keliling dalam pikiran, menimbulkan
pertanyaan dalam hati. Apakah tidak ada lagi “manusia peduli” di kota
pendidikan ini? atau mereka tak begitu terlihat, Sehingga tak ada yang
berempati? Atau mungkin pula sama seperti diri ini, karena tidak ada kemampuan
yang lebih?
ENTAHLAH. . . ~Kemungkinan yang terakhir, hati ini sudah beku~

Berikan komentar terbaikmu :)