Friday, 6 December 2013

Setiap kali mata ini melihat ibu dan anak itu, maka sewaktu itu pula timbul rasa untuk mengabadikannya. Melihat dari sudut yang permanen sosok yang begitu alami. Penampilannya terbilang cukup untuk menggambarkan negeri ini.
Sumber: Hasil Foto di depan Kampus

Sebut saja namanya fulana. Entahlah, aku belum mempunyai waktu yang lebih untuk menanyakan namanya, apalagi mengetahui lebih dalam tentang asal-usul si fulana dan juga wanita yang selalu bersama fulana-kemungkinan itu ibunya.  

Mereka terlihat kompak. Pagi dan sore senantiasa mengisi pandangan mata setiap orang yang ada dikota ini, terkhusus lagi kami yang sering keluar masuk kampus. Tak jarang pula “pasangan fulana” pun berdiam diri disudut-sudut jalanan atau keliling menyisiri luar kampus mencari-cari suatu hal yang bisa dimanfaatkan. Mungkin itu dilakukan demi mempertahankan hidup mereka atau mungkin berharap ada yang merasa iba, dan entahlah. Yang jelas  sejauh pandangan penulis, mereka tetap sama seperti yang kemarin dan mungkin juga esok akan tetap seperti itu. Wajah kusut, rambut acak-acak, pakaian sudah mulai berubah warna, dan cukup. Itu sudah cukup menggambarkan mereka.

Tidak tahu sampai kapan mereka akan terus menghiasi mata ini, keliling dalam pikiran, menimbulkan pertanyaan dalam hati. Apakah tidak ada lagi “manusia peduli” di kota pendidikan ini? atau mereka tak begitu terlihat, Sehingga tak ada yang berempati? Atau mungkin pula sama seperti diri ini, karena tidak ada kemampuan yang lebih?   

ENTAHLAH. . . ~Kemungkinan yang terakhir, hati ini sudah beku~

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates