Tuesday, 5 November 2013

Meski sudah berumur 5 tahun lebih, organisasi ini tetap stagnan. Setiap tahun tak ada perubahan signifikan meski pengurus terus bergantian. Anggota pergi entah kemana yang tersisa hanya pengurus harian. Benarlah kata pepatah, mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Mengkritik jauh lebih mudah dibandingkan berinisiatif.
Sumber : Dokumentasi Yasinan
Sejauh pengamatan penulis, HIMAPURA jauh dari kata layak untuk dikatakan sebuah organisasi. Bukan karena ia tak ada struktur yang jelas, bukan juga sebab tak ada AD/ART, apalagi karna ia tak ada pergerakan. HIMAPURA mempunyai tata keorganisasian yang jelas dan baik seperti kebanyakan organisasi lain, ia pula sudah dikenal oleh masyarakat, khususnya Martapura sehingga namanya takkan asing bila kita sebutkan di daerah itu. Kemudian mengenai pergerakan, setiap tahun HIMAPURA selalu ada kegiatan walaupun dengan lika-liku masalah. Dan, sampai sekarang pun namanya tetap eksis. Namun, mari kita samakan persepsi bahwa, kelayakan organisasi bukan hanya dilihat dari tata fisiknya semata namun pula aspek tata kimianya, anggota dan kader yang harmonis dan saling memahami menjadi unsur yang harus senantiasa dijaga bukan dipisah.

Dalam Anggaran Dasar pasal 5, disebutkan bahwa azas HIMAPURA adalah Pancasila dan UUD 1945. Hal ini mengartikan bahwa tata kelola, pergerakan dan lain sebagainya sama dengan kebanyakan organisasi lainnya yakni bersifat nasionalisme. Maka, secara tidak langsung sikap didalamnya pun mesti dibarengi dengan hal-hal nasional, minimal berbahasa nasional. Tetapi, seiring dengan akrabnya persaudaraan yang terjalin dalam organisasi ini, maka tercetuslah sebuah azas yang bernama kekeluargaan. Azas ini seakan mengurung hidup-hidup intelektual dalam berorganisasi.

Sadar atau tidak, organisasi ini sedang terkurung dalam sangkarnya sendiri dan tersandung karena sebuah azas. Bagaimana tidak, Harapan akan terciptanya keakraban akibat azas tersebut, ternyata malah menjadi alasan dalam bersikap acuh tak acuh terhadap organisasi ini. ketika rapat mengundang, yang datang hanya segelintir orang. Setiap kegiatan hanya tergerakkan oleh 2 bahkan 1 orang. Dan yang lebih menyedihkan lagi, hal ini terus berlangsung setiap pergantian pengurus (paling tidak 2 tahun belakang ini). Kalau boleh saya katakan, Pergantian pengurus hanyalah simbol pergantian susah payah, pergantian kerja keras, dan pergantian banting tulang organisasi. 

Azas kekeluargaan tercipta karena ada rasa memiliki dan azas kekeluargaan itu terlihat dari caranya menghargai bukan mengkritisi tanpa inisiatif. Jika memang rasa kekeluargaan itu ada, pastilah sikap pun ikut menyusul. Instropeksi diri, rubah mindshet yang selalu ingin dilayani. []


Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates