BPH itu Pelayan!
Meski
sudah berumur 5 tahun lebih, organisasi ini tetap stagnan. Setiap tahun tak ada
perubahan signifikan meski pengurus terus bergantian. Anggota pergi entah
kemana yang tersisa hanya pengurus harian. Benarlah kata pepatah, mempertahankan
lebih sulit daripada merebut. Mengkritik jauh lebih mudah dibandingkan
berinisiatif.
![]() |
| Sumber : Dokumentasi Yasinan |
Sejauh
pengamatan penulis, HIMAPURA jauh dari kata layak untuk dikatakan sebuah
organisasi. Bukan karena ia tak ada struktur yang jelas, bukan juga sebab tak
ada AD/ART, apalagi karna ia tak ada pergerakan. HIMAPURA mempunyai tata
keorganisasian yang jelas dan baik seperti kebanyakan organisasi lain, ia pula sudah
dikenal oleh masyarakat, khususnya Martapura sehingga namanya takkan asing bila
kita sebutkan di daerah itu. Kemudian mengenai pergerakan, setiap tahun
HIMAPURA selalu ada kegiatan walaupun dengan lika-liku masalah. Dan, sampai
sekarang pun namanya tetap eksis. Namun, mari kita samakan persepsi bahwa,
kelayakan organisasi bukan hanya dilihat dari tata fisiknya semata namun pula
aspek tata kimianya, anggota dan kader yang harmonis dan saling memahami
menjadi unsur yang harus senantiasa dijaga bukan dipisah.
Dalam
Anggaran Dasar pasal 5, disebutkan bahwa azas HIMAPURA adalah Pancasila dan UUD
1945. Hal ini mengartikan bahwa tata kelola, pergerakan dan lain sebagainya
sama dengan kebanyakan organisasi lainnya yakni bersifat nasionalisme. Maka,
secara tidak langsung sikap didalamnya pun mesti dibarengi dengan hal-hal
nasional, minimal berbahasa nasional. Tetapi, seiring dengan akrabnya
persaudaraan yang terjalin dalam organisasi ini, maka tercetuslah sebuah azas
yang bernama kekeluargaan. Azas ini seakan mengurung hidup-hidup intelektual
dalam berorganisasi.
Sadar
atau tidak, organisasi ini sedang terkurung dalam sangkarnya sendiri dan
tersandung karena sebuah azas. Bagaimana tidak, Harapan akan terciptanya
keakraban akibat azas tersebut, ternyata malah menjadi alasan dalam bersikap
acuh tak acuh terhadap organisasi ini. ketika rapat mengundang, yang datang
hanya segelintir orang. Setiap kegiatan hanya tergerakkan oleh 2 bahkan 1
orang. Dan yang lebih menyedihkan lagi, hal ini terus berlangsung setiap
pergantian pengurus (paling tidak 2 tahun belakang ini). Kalau boleh saya
katakan, Pergantian pengurus hanyalah simbol pergantian susah payah, pergantian
kerja keras, dan pergantian banting tulang organisasi.
Azas
kekeluargaan tercipta karena ada rasa memiliki dan azas kekeluargaan itu
terlihat dari caranya menghargai bukan mengkritisi tanpa inisiatif. Jika memang
rasa kekeluargaan itu ada, pastilah sikap pun ikut menyusul. Instropeksi diri,
rubah mindshet yang selalu ingin dilayani. []

Berikan komentar terbaikmu :)