Hembusan Kasturi bagi Pejuang Revolusi
“banyak yang cinta damai tapi perang semakin
ramai-banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai, bingung-bingung ku
memikirnya”.
Petikan
lagu Islami yang sudah cukup lama tak terdengar lagi. Lagu yang bila kita
renungi memang benar adanya kini. Fitrah
seorang manusia senantiasa menginginkan ketenangan dan kedamaian dalam
hidupnya, sedikit yang menginginkan peperangan karena perang hanyalah sandiwara
catur yang menyengsarakan, dan tak banyak yang menginginkan nyawa hilang tak
berarti karena kepentingan independensi. Tapi, mengapa kesengsaraan dan
permasalahan senantiasa ada di antara manusia, ketidakadilan dan penindasan
sangat dirasakan kaum bawahan, dan kasih sayang sudah barang yang langka, terkhusus
di negara kita Indonesia. Jawabannya, hanya karena kita sedang hidup di dunia.
Indonesia,
negara yang kaya akan budaya, keindahan alam, hasil bumi yang melimpah dan
sumber daya manusia yang mengesankan, tak telak pula membuat bangsanya menjadi
sejahtera dan tentram. Bangsa yang memilik berbagai budaya, suku, bahasa dan
pulau-pulau indah yang terbentang dari Sabang hingga Merauke ini masih tetap
dipusingkan terhadap berbagai masalah. Keberadaan tambang hasil bumi,
pariwisata, pantai yang cantik dan masih banyak lagi kekayaan alam dinegeri
ini, hanyalah pandangan semu belaka yang tiada menyejahterakan dan menentramkan
rakyatnya. Toh, masih banyak pula
rakyat sekitar pertambangan hasil bumi yang tak punya pekerjaan dan hidup
sengsara, tidak sedikit pula anak-anak yang meminta-minta dan tidur di kolong
jembatan, dan tidak terhitung lagi fakir miskin yang terlantar, tidak
dipedulikan.
Permasalahan
dinegeri ini sangat banyak. Tak hanya permasalahan kesejahteraan rakyat yang
dijelaskan di atas, permasalahan internal pemerintah pun tak kalah banyak dan
hebatnya. Contohnya saja penelitian di tahun 2012 kemarin, ada 10 permasalahan
versi Koran Anak Indonesia yang terjadi di tahun 2009, yang diantaranya
menyebutkan permasalahan birokrasi pemerintahan. Berikut ini adalah 10
Permasalahan tersebut :
1. Korupsi sebagai penyakit bangsa yang belum teratasi; 2. Ketidak Percayaan masyarakat terhadap Lembaga peradilan dan Penegak
hukum; 3. Krisis ketidakpercayaan dan demoralisasi pada politikus di DPR; 4. Buruknya sistem birokrasi di pemerintahan mulai dari level paling bawah
hingga ke atas; 5. Hancurnya
Perekonomian Global yang sedikit berimbas pada perekonomian bangsa; 6. Permasalahan Korupsi Nazarudin dan beberapa elit Partai demokrat; 7. Masalah NARKOBA yang mengancam generasi produktif bangsa ini; 8. Angka Kemiskinan dan pengangguran yang masih besar; 9. Masalah kesejahteraan dan kesehatan yang masih mengancam, khususnya HIV/AIDS, malnutrisi (kurang gizi) dan
kesehatan ibu dan anak; 10. Kekerasan dan pengabaian hak terhadap kaum lemah khususnya anak,
perempuan dan kaum miskin.
Miris memang, tapi itu lah yang
terjadi pada bangsa yang beragam ini, dan masih tak terbantahkan hingga sekarang. Keberadaan kaum
intelektual, pelajar, mahasiswa dan kaum-kaum lainnya, yang peduli dengan
bangsa ini, justru dianggap sebagai pengancam keberlangsungan kinerja
pemerintahan. Negeri ini butuh orang-orang terpelajar yang mampu mengubah masa
depan Indonesia menjadi baik. Bangsa ini haus dengan manusia yang kaya akan
ilmu pengetahuan, insan yang beriman dan akhlak yang budiman. Tetapi, mengapa mereka begitu anti
dan benci? Apakah kaum seperti itu terlalu buruk untuk bangsa ini, sehingga
dapat membuat negara jadi merugi? Tentu saja tidak. Kaum intelektual, terutama
mahasiswa merupakan elemen yang tak terpisahkan dengan bangsanya, mereka sangat
dekat dengan rakyat dan lingkungan sekitarnya.
Kecintaan mereka terhadap negeri ini
telah menjadikan motivasi tersendiri untuk senantiasa hadir dalam masalah yang
ada di masyarakat. Tekad untuk menjadi insan yang bermanfaat selalu ada dihati
para mahasiswa. Semua kenangan perjuangan dan pengorbanan sudah menjadi sejarah
lama mahasiswa dalam membela rakyat lemah dan tak berdaya. Mulai dari
penjajahan hingga reformasi saat ini. Permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat senantiasa mendapat
perhatian dari mahasiswa. Masalah anak-anak yang kurang mampu untuk melanjutkan
sekolah, mahasiswa beri solusi untuk mendirikan taman belajar di lingkungan
masyarakat sekitar, yang tentunya lebih memudahkan adik-adik yang haus dengan
ilmu pengetahuan dalam belajar. Masalah pengangguran dan kemiskinan yang masih besar, membuat mahasiswa tersadar untuk
turun langsung kelapangan guna memberi sedikit keterampilan dalam dunia
kewirausahaan dan lain sebagainya, yang dapat menjadi modal masyarakat
pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan. Permasalahan birokrasi yang merugikan
rakyat banyak, pun menjadi sorotan mahasiswa dan kajian yang serius setiap
harinya, hingga mereka rela berkorban identitas, turun ke jalan untuk menjadi
kelompok penekan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak
mementingkan kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Namun sekarang, seiring perkembangan zaman dan kepemimpinan, pemerintah
semakin pintar dan waspada dalam mempengaruhi masyarakat dan membelenggu
mahasiswa. Peranan mahasiswa atas citranya sebagai kaum intelektual mulai
dirasakan tak nyaman oleh oknum pemerintahan. Berbagai cara pun di tempuh demi
menghentikan laju pergerakan kelompok penekan ini. Mulai dari keberadaan media
massa yang dulu sangat membantu memberikan informasi kepada masyarakat, namun
kini malah menjadi oknum provokasi, hingga menjadikan kelompok-kelompok
masyarakat yang liberal. Dan sadar atau tidak bahwa kini, Mahasiswa dipandang
oleh masyarakat selalu anarkis dalam menyampaikan aspirasinya, mahasiswa
senantiasa dianggap merugikan masyarakat di setiap aksinya, dan mahasiswa kini
di nilai jauh dari intelektualitas.
Saudaraku, peran penting tersematkan di dada kita masing-masing, adanya
kita adalah untuk masyarakat indonesia. Peranan kita dalam mengatasi
permasalahan bangsa sangat di nanti-nanti oleh masyarakat. Peranan sosial,
budaya, dan bahkan politik menjadi kewajiban kita di dunia dan amalan kelak di akhirat.
Untuk itu, segala upaya oknum pemerintah untuk membelenggu kita, anggaplah
sebagai hembusan angin kasturi yang melegakan nafas revolusi. Semoga, kita senantiasa dalam perlindungan
Allah Swt. untuk mencapai Indonesia yang sejahtera. Amin, ya Rabbal’alamin.
Berikan komentar terbaikmu :)