Sunday, 30 June 2013



 “banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai-banyak yang cinta damai tapi perang semakin ramai, bingung-bingung ku memikirnya”.
Petikan lagu Islami yang sudah cukup lama tak terdengar lagi. Lagu yang bila kita renungi memang benar adanya kini.  Fitrah seorang manusia senantiasa menginginkan ketenangan dan kedamaian dalam hidupnya, sedikit yang menginginkan peperangan karena perang hanyalah sandiwara catur yang menyengsarakan, dan tak banyak yang menginginkan nyawa hilang tak berarti karena kepentingan independensi. Tapi, mengapa kesengsaraan dan permasalahan senantiasa ada di antara manusia, ketidakadilan dan penindasan sangat dirasakan kaum bawahan, dan kasih sayang sudah barang yang langka, terkhusus di negara kita Indonesia. Jawabannya, hanya karena kita sedang hidup di dunia.
Indonesia, negara yang kaya akan budaya, keindahan alam, hasil bumi yang melimpah dan sumber daya manusia yang mengesankan, tak telak pula membuat bangsanya menjadi sejahtera dan tentram. Bangsa yang memilik berbagai budaya, suku, bahasa dan pulau-pulau indah yang terbentang dari Sabang hingga Merauke ini masih tetap dipusingkan terhadap berbagai masalah. Keberadaan tambang hasil bumi, pariwisata, pantai yang cantik dan masih banyak lagi kekayaan alam dinegeri ini, hanyalah pandangan semu belaka yang tiada menyejahterakan dan menentramkan rakyatnya. Toh, masih banyak pula rakyat sekitar pertambangan hasil bumi yang tak punya pekerjaan dan hidup sengsara, tidak sedikit pula anak-anak yang meminta-minta dan tidur di kolong jembatan, dan tidak terhitung lagi fakir miskin yang terlantar, tidak dipedulikan.
  Permasalahan dinegeri ini sangat banyak. Tak hanya permasalahan kesejahteraan rakyat yang dijelaskan di atas, permasalahan internal pemerintah pun tak kalah banyak dan hebatnya. Contohnya saja penelitian di tahun 2012 kemarin, ada 10 permasalahan versi Koran Anak Indonesia yang terjadi di tahun 2009, yang diantaranya menyebutkan permasalahan birokrasi pemerintahan. Berikut ini adalah 10 Permasalahan tersebut :
1. Korupsi sebagai penyakit bangsa yang belum teratasi; 2. Ketidak Percayaan masyarakat terhadap Lembaga peradilan dan Penegak hukum; 3. Krisis ketidakpercayaan dan demoralisasi pada politikus di DPR; 4. Buruknya sistem birokrasi di pemerintahan mulai dari level paling bawah hingga ke atas; 5. Hancurnya Perekonomian Global yang sedikit berimbas pada perekonomian bangsa; 6. Permasalahan Korupsi Nazarudin dan beberapa elit Partai demokrat; 7. Masalah NARKOBA yang mengancam generasi produktif bangsa ini; 8. Angka Kemiskinan dan pengangguran yang masih besar; 9. Masalah kesejahteraan dan kesehatan yang masih mengancam, khususnya HIV/AIDS, malnutrisi (kurang gizi) dan kesehatan ibu dan anak; 10. Kekerasan dan pengabaian hak terhadap kaum lemah khususnya anak, perempuan dan kaum miskin.

  Miris memang, tapi itu lah yang terjadi pada bangsa yang beragam ini, dan masih tak  terbantahkan hingga sekarang. Keberadaan kaum intelektual, pelajar, mahasiswa dan kaum-kaum lainnya, yang peduli dengan bangsa ini, justru dianggap sebagai pengancam keberlangsungan kinerja pemerintahan. Negeri ini butuh orang-orang terpelajar yang mampu mengubah masa depan Indonesia menjadi baik. Bangsa ini haus dengan manusia yang kaya akan ilmu pengetahuan, insan yang beriman dan akhlak yang  budiman. Tetapi, mengapa mereka begitu anti dan benci? Apakah kaum seperti itu terlalu buruk untuk bangsa ini, sehingga dapat membuat negara jadi merugi? Tentu saja tidak. Kaum intelektual, terutama mahasiswa merupakan elemen yang tak terpisahkan dengan bangsanya, mereka sangat dekat dengan rakyat dan lingkungan sekitarnya.
   Kecintaan mereka terhadap negeri ini telah menjadikan motivasi tersendiri untuk senantiasa hadir dalam masalah yang ada di masyarakat. Tekad untuk menjadi insan yang bermanfaat selalu ada dihati para mahasiswa. Semua kenangan perjuangan dan pengorbanan sudah menjadi sejarah lama mahasiswa dalam membela rakyat lemah dan tak berdaya. Mulai dari penjajahan  hingga reformasi saat ini. Permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat senantiasa mendapat perhatian dari mahasiswa. Masalah anak-anak yang kurang mampu untuk melanjutkan sekolah, mahasiswa beri solusi untuk mendirikan taman belajar di lingkungan masyarakat sekitar, yang tentunya lebih memudahkan adik-adik yang haus dengan ilmu pengetahuan dalam belajar. Masalah pengangguran dan kemiskinan yang masih besar, membuat mahasiswa tersadar untuk turun langsung kelapangan guna memberi sedikit keterampilan dalam dunia kewirausahaan dan lain sebagainya, yang dapat menjadi modal masyarakat pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan. Permasalahan birokrasi yang merugikan rakyat banyak, pun menjadi sorotan mahasiswa dan kajian yang serius setiap harinya, hingga mereka rela berkorban identitas, turun ke jalan untuk menjadi kelompok penekan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak mementingkan kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Namun sekarang, seiring perkembangan zaman dan kepemimpinan, pemerintah semakin pintar dan waspada dalam mempengaruhi masyarakat dan membelenggu mahasiswa. Peranan mahasiswa atas citranya sebagai kaum intelektual mulai dirasakan tak nyaman oleh oknum pemerintahan. Berbagai cara pun di tempuh demi menghentikan laju pergerakan kelompok penekan ini. Mulai dari keberadaan media massa yang dulu sangat membantu memberikan informasi kepada masyarakat, namun kini malah menjadi oknum provokasi, hingga menjadikan kelompok-kelompok masyarakat yang liberal. Dan sadar atau tidak bahwa kini, Mahasiswa dipandang oleh masyarakat selalu anarkis dalam menyampaikan aspirasinya, mahasiswa senantiasa dianggap merugikan masyarakat di setiap aksinya, dan mahasiswa kini di nilai jauh dari intelektualitas.
  Saudaraku, peran penting tersematkan di dada kita masing-masing, adanya kita adalah untuk masyarakat indonesia. Peranan kita dalam mengatasi permasalahan bangsa sangat di nanti-nanti oleh masyarakat. Peranan sosial, budaya, dan bahkan politik menjadi kewajiban kita di dunia dan amalan kelak di akhirat. Untuk itu, segala upaya oknum pemerintah untuk membelenggu kita, anggaplah sebagai hembusan angin kasturi yang melegakan nafas revolusi.  Semoga, kita senantiasa dalam perlindungan Allah Swt. untuk mencapai Indonesia yang sejahtera. Amin, ya Rabbal’alamin.

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates