Keasingan Pemuda Khilafah (KPK)
Assalamu’alaikum Wr.
Wb.
Umur
dunia ini senantiasa diiringi oleh perkembangan zaman. Zaman yang terus
berubah-ubah dan berkembang seperti perpindahan sarang lebah-lebah, ternyata
tak dirasakan alirannya. Alirannya begitu lancar, lancar seperti konduktor yang
sangat reaktif. Seorang ibu akan mengandung dan melahirkan anaknya, anak kecil
akan tumbuh menjadi remaja, dan remaja-pun akan menjadi dewasa, terus seperti
itu hakekatnya. Tak terhenti hingga kini. Pada saat itu, sedikit yang menyadari
bahwa ada suatu proses yang harus dicermati secara serius dan bijaksana dengan
keyakinan dan penalaran agama kita, yakni Islam. Agama Islam yang seutuhnya,
bukan Liberal. Proses menjadi seorang pemuda. Ya! pemuda Islam yang ideal.
Dunia
ini sudah tua kawan.
Ketika
kita menulis tiga huruf diatas yakni tua, maka yang terpikir adalah suatu hal
yang sudah lama dan tak baru lagi. Dunia ini tak baru lagi, sejarah manusia
sudah banyak terkubur didalamnya, penemuan-penemuan sudah asing di telinga ini,
dan pemimpin-pemimpin Islam terdaftar dengan apik dalam catatan-Nya. Maka
layaknya dunia yang sudah tua, seperti itulah manusia. Jika sudah tua tak ada artinya dan setiap hal
yang dilakukannya dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Lain halnya jika
kita membahas mengenai seorang pemuda, hal yang baru bukan lama, bersinergi dan
visioner, dan yang pasti bukan hal
yang biasa karena yang dihasilkannya sungguh luar biasa. Seorang pemuda
memiliki semangat yang tak dimiliki kaum tua. Bila kita kembali ke masa lampau
negara kita Indonesia, yakni pada masa penjajahan, maka kita akan menemukan
banyak cerita pejuang muda kemerdekaan negara kita, indonesia. Salah satunya
adalah keberanian kaum muda pada peristiwa Rengasdengklok, yakni menculik
soekarno-hatta.
Pemuda,
tak ubahnya seperti sepatu baru yang dibeli dari toko ternama. Jika kita terus
menjaga, mencuci dan merawat sepatu tersebut maka sepatu itu akan tetap
dikatakan baru meski ia sudah lama dibeli. Namun jika sebaliknya yang terjadi
maka, sudah pasti dan barang tentu sepatu itu akan dikatakan sudah berabad-abad
lamanya, meskipun satu hari sebenarnya. Pada hakekatnya, pemuda haruslah
menjaga dan selalu membersihkan diri layaknya sepatu baru, agar tetap tawaqal dan istiqomah dalam menghadapi berbagai macam cobaaan hidup di kehidupan
dunia yang fana ini. Terkhusus kita, pemuda-pemuda Islam penerus dakwah nabi
Muhammad Saw., amin.
Kini,
pemuda Islam berada pada keasingan yang real.
Sulit untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Diskotik, Clubing, bahkan
gubuk buruk perjudian sudah tak asing lagi, menjadi tempat ternyaman dan
dianggap suatu hal yang rasional untuk dijadikan persinggahan. Panggung kemaksiatan. Shalat tak menjadi
prioritas lagi dalam mengarungi hari demi hari, Al-qur’an sekedar kumpulan
lembaran kertas yang hanya menjadi hiasan lemari atas dan bacaan sekilas, dan
nabi Muhammad Saw. dijauhkan dari suri
tauladan Islam. Apakah hal seperti itu yang dinamakan pemuda Islam? Penerus
dakwah nabi Muhammad Saw.? Maka dengan lantang jawabannya adalah, tidak!
Bila
kita berkaca terhadap pemuda Islam di masa yang lalu maka, kita akan menemukan
perbandingan 360 derajat perbedaan.
Masih ingat-kah kita dengan tujuh orang pemuda yang bertekad dengan prinsipnya
yang benar, melawan ideologi pemimpinnya, mempertahankan keyakinannya terhadap
Allah Swt. yang esa dan juga yang tak kalah pentingnya adalah melawan suatu
sistem? Dan mereka mendapatkan muk’jizat
dari Allah Swt. ditidurkan selama 309 tahun didalam sebuah gua agar terhindar
dari pemimpinnya yang zalim, Subhanallah. Mereka adalah pemuda-pemuda
As-habul kahfi yang berjuang melawan
ideologi. Melawan sistem yang menyimpang dari ajaran Islam. Bagaimanakah pemuda
Islam kita yang sekarang? Masih ada-kah pemuda Islam seperti itu? Melawan
sistem yang tak baku, melawan sistem Liberal?
Selain
pemuda-pemuda As-habul kahfi, masih
banyak pemuda Islam di zaman dahulu yang patut kita jadikan teladan yang baik.
Termasuk pemuda yang senantiasa kita nantikan syafa’atnya di yaumul qiyamah kelak yakni, nabi Muhammad
Saw., suri tauladan bagi umat akhir
zaman.
Rasulullah
Saw. merupakan sosok pemuda yang ulet dan tekun. Di usianya yang masih belia,
beliau sudah dapat membantu pamannya Abu thalib untuk mengembalakan domba-domba
serta berdagang hingga ke luar negeri. Singkatnya, beliau merupakan pemuda pekerja keras bukan pemalas layaknya pemuda
kita saat ini. Jangankan untuk membantu paman atau keluarga yang lainnya,
membantu diri sendiri untuk berbuat amal saja sulit untuk dilakukan secara
kontinu. Misalnya, shalat tepat pada waktunya dan berjama’ah. Menunda-nunda
shalat adalah hal yang biasa kita dapatkan dilingkungan para pemuda Islam kini,
terlebih lagi shalat sendirian. Na’udzubillahimindzalik.
Lantas,
masih adakah harapan untuk pemuda Islam yang ideal di masa yang akan datang? Sedangkan
akhlak pemuda Islam saat ini semakin hari semakin memburuk. Saudaraku, betapa
hati ini tidak miris ketika mendengar berita seorang wanita muslimah yang
berada di salah satu kota di Indonesia, mencabuli remaja-remaja tanggung. Betapa
hati ini tak menjadi sedih melihat video remaja wanita yang memainkan shalat
dengan tiada dosanya. Wanita yang seharusnya menjaga dirinya dengan sangat
rapat, justru membuat mulut ini terbungkam rapat dan tak habis pikir terhadap
kemaksiatan yang diperbuatnya. Sungguh,
kita sedang dalam keterpurukan moral, pendangkalan akidah dan penurunan akhlak.
Begitu
banyak pertanyaan yang terbesit di hati ini, begitu banyak pula harapan dan
impian ini, untuk Islam di masa sekarang dan yang akan datang. Dunia ini
merindukan kehadiran pemuda yang cinta dengan agama islam dan senantiasa istiqamah dijalan-Nya. Jalan kebenaran. Ya,
aku rindu akan pemuda Islam yang ideal.
Sesuatu
yang baik dapat dibentuk dari hal baik ataupun buruk. Setiap hal buruk belum
tentu menghasilkan hal yang serupa, begitupun sebaliknya. Maka, jika kita
berbicara mengenai pemuda Islam yang ideal, tidaklah harus pemuda tersebut
berasal dari hal-hal yang ideal pula karena, pemuda Islam yang ideal adalah pemuda
yang mampu bertahan dalam kondisi apapun, kondisi yang ia inginkan ataupun yang
ditakdirkan kepadanya. Nabi muhammad
Saw. tidaklah hidup di lingkungan yang Islamiyah, melainkan sebaliknya. Namun,
beliau mampu mengubah hal tersebut dengan akhlak dan akidahnya sebagai seorang
pemuda. Saudaraku, meskipun di negeri ini begitu banyak masalah mengenai aqidah
dan akhlak, bukan berarti kita tidak dapat menjadi pemuda Islam yang ideal,
justru ini merupakan pemicu semangat kita untuk mengubahnya dan menjadikan
negeri ini lebih bermoral.
Sulit
untuk mengartikan diri ini sebagai pemuda Islam yang ideal. Namun sulit bukan
berarti tidak bisa sama sekali, sulit bukan berarti tidak ada, tetapi sulit
berarti banyak rintangan dan cobaan yang harus di hadapi. Pemuda Islam yang
ideal takkan pernah putus asa untuk mencapai kesempurnaan dirinya, pemuda Islam
yang ideal haramkan gentar untuk melawan sistem yang tak ubahnya seperti
perilaku setan, dan pemuda Islam yang ideal akan selalu hadir dalam dunia Islam.
Karena sebenarnya, pemuda tersebut ada, dan tersebar di negeri ini, tersebar di
dunia ini. Saudaraku, pemuda itu adalah kita. Ya, kita yang akan melawan sistem
Kapitalis di negeri ini, kita yang sebentar lagi akan memperbaiki kemudharatan di negeri ini, dan kita
sedang berada dalam perjalanan dakwah menuju dunia yang Islamiyah. Allahuakbar!
Wassallamu’alaikum Wr. Wb.
Berikan komentar terbaikmu :)