Thursday, 25 April 2013

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Umur dunia ini senantiasa diiringi oleh perkembangan zaman. Zaman yang terus berubah-ubah dan berkembang seperti perpindahan sarang lebah-lebah, ternyata tak dirasakan alirannya. Alirannya begitu lancar, lancar seperti konduktor yang sangat reaktif. Seorang ibu akan mengandung dan melahirkan anaknya, anak kecil akan tumbuh menjadi remaja, dan remaja-pun akan menjadi dewasa, terus seperti itu hakekatnya. Tak terhenti hingga kini. Pada saat itu, sedikit yang menyadari bahwa ada suatu proses yang harus dicermati secara serius dan bijaksana dengan keyakinan dan penalaran agama kita, yakni Islam. Agama Islam yang seutuhnya, bukan Liberal. Proses menjadi seorang pemuda. Ya! pemuda Islam yang ideal.
Dunia ini sudah tua kawan.
Ketika kita menulis tiga huruf diatas yakni tua, maka yang terpikir adalah suatu hal yang sudah lama dan tak baru lagi. Dunia ini tak baru lagi, sejarah manusia sudah banyak terkubur didalamnya, penemuan-penemuan sudah asing di telinga ini, dan pemimpin-pemimpin Islam terdaftar dengan apik dalam catatan-Nya. Maka layaknya dunia yang sudah tua, seperti itulah manusia.  Jika sudah tua tak ada artinya dan setiap hal yang dilakukannya dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Lain halnya jika kita membahas mengenai seorang pemuda, hal yang baru bukan lama, bersinergi dan visioner, dan yang pasti bukan hal yang biasa karena yang dihasilkannya sungguh luar biasa. Seorang pemuda memiliki semangat yang tak dimiliki kaum tua. Bila kita kembali ke masa lampau negara kita Indonesia, yakni pada masa penjajahan, maka kita akan menemukan banyak cerita pejuang muda kemerdekaan negara kita, indonesia. Salah satunya adalah keberanian kaum muda pada peristiwa Rengasdengklok, yakni menculik soekarno-hatta.
Pemuda, tak ubahnya seperti sepatu baru yang dibeli dari toko ternama. Jika kita terus menjaga, mencuci dan merawat sepatu tersebut maka sepatu itu akan tetap dikatakan baru meski ia sudah lama dibeli. Namun jika sebaliknya yang terjadi maka, sudah pasti dan barang tentu sepatu itu akan dikatakan sudah berabad-abad lamanya, meskipun satu hari sebenarnya. Pada hakekatnya, pemuda haruslah menjaga dan selalu membersihkan diri layaknya sepatu baru, agar tetap tawaqal dan istiqomah dalam menghadapi berbagai macam cobaaan hidup di kehidupan dunia yang fana ini. Terkhusus kita, pemuda-pemuda Islam penerus dakwah nabi Muhammad Saw., amin.
Kini, pemuda Islam berada pada keasingan yang real. Sulit untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Diskotik, Clubing, bahkan gubuk buruk perjudian sudah tak asing lagi, menjadi tempat ternyaman dan dianggap suatu hal yang rasional untuk dijadikan persinggahan.  Panggung kemaksiatan. Shalat tak menjadi prioritas lagi dalam mengarungi hari demi hari, Al-qur’an sekedar kumpulan lembaran kertas yang hanya menjadi hiasan lemari atas dan bacaan sekilas, dan nabi Muhammad Saw. dijauhkan dari suri tauladan Islam. Apakah hal seperti itu yang dinamakan pemuda Islam? Penerus dakwah nabi Muhammad Saw.? Maka dengan lantang jawabannya adalah, tidak!
Bila kita berkaca terhadap pemuda Islam di masa yang lalu maka, kita akan menemukan perbandingan 360 derajat perbedaan.  Masih ingat-kah kita dengan tujuh orang pemuda yang bertekad dengan prinsipnya yang benar, melawan ideologi pemimpinnya, mempertahankan keyakinannya terhadap Allah Swt. yang esa dan juga yang tak kalah pentingnya adalah melawan suatu sistem? Dan mereka mendapatkan muk’jizat dari Allah Swt. ditidurkan selama 309 tahun didalam sebuah gua agar terhindar dari pemimpinnya yang zalim, Subhanallah. Mereka adalah pemuda-pemuda As-habul kahfi yang berjuang melawan ideologi. Melawan sistem yang menyimpang dari ajaran Islam. Bagaimanakah pemuda Islam kita yang sekarang? Masih ada-kah pemuda Islam seperti itu? Melawan sistem yang tak baku, melawan sistem Liberal?
Selain pemuda-pemuda As-habul kahfi, masih banyak pemuda Islam di zaman dahulu yang patut kita jadikan teladan yang baik. Termasuk pemuda yang senantiasa kita nantikan syafa’atnya di yaumul qiyamah kelak yakni, nabi Muhammad Saw., suri tauladan bagi umat akhir zaman. 
Rasulullah Saw. merupakan sosok pemuda yang ulet dan tekun. Di usianya yang masih belia, beliau sudah dapat membantu pamannya Abu thalib untuk mengembalakan domba-domba serta berdagang hingga ke luar negeri. Singkatnya, beliau merupakan pemuda  pekerja keras bukan pemalas layaknya pemuda kita saat ini. Jangankan untuk membantu paman atau keluarga yang lainnya, membantu diri sendiri untuk berbuat amal saja sulit untuk dilakukan secara kontinu. Misalnya, shalat tepat pada waktunya dan berjama’ah. Menunda-nunda shalat adalah hal yang biasa kita dapatkan dilingkungan para pemuda Islam kini, terlebih lagi shalat sendirian. Na’udzubillahimindzalik.
Lantas, masih adakah harapan untuk pemuda Islam yang ideal di masa yang akan datang? Sedangkan akhlak pemuda Islam saat ini semakin hari semakin memburuk. Saudaraku, betapa hati ini tidak miris ketika mendengar berita seorang wanita muslimah yang berada di salah satu kota di Indonesia, mencabuli remaja-remaja tanggung. Betapa hati ini tak menjadi sedih melihat video remaja wanita yang memainkan shalat dengan tiada dosanya. Wanita yang seharusnya menjaga dirinya dengan sangat rapat, justru membuat mulut ini terbungkam rapat dan tak habis pikir terhadap kemaksiatan yang diperbuatnya.  Sungguh, kita sedang dalam keterpurukan moral, pendangkalan akidah dan penurunan akhlak.
Begitu banyak pertanyaan yang terbesit di hati ini, begitu banyak pula harapan dan impian ini, untuk Islam di masa sekarang dan yang akan datang. Dunia ini merindukan kehadiran pemuda yang cinta dengan agama islam dan senantiasa istiqamah dijalan-Nya. Jalan kebenaran. Ya, aku rindu akan pemuda Islam yang ideal.
Sesuatu yang baik dapat dibentuk dari hal baik ataupun buruk. Setiap hal buruk belum tentu menghasilkan hal yang serupa, begitupun sebaliknya. Maka, jika kita berbicara mengenai pemuda Islam yang ideal, tidaklah harus pemuda tersebut berasal dari hal-hal yang ideal pula karena, pemuda Islam yang ideal adalah pemuda yang mampu bertahan dalam kondisi apapun, kondisi yang ia inginkan ataupun yang ditakdirkan kepadanya.  Nabi muhammad Saw. tidaklah hidup di lingkungan yang Islamiyah, melainkan sebaliknya. Namun, beliau mampu mengubah hal tersebut dengan akhlak dan akidahnya sebagai seorang pemuda. Saudaraku, meskipun di negeri ini begitu banyak masalah mengenai aqidah dan akhlak, bukan berarti kita tidak dapat menjadi pemuda Islam yang ideal, justru ini merupakan pemicu semangat kita untuk mengubahnya dan menjadikan negeri ini lebih bermoral.
Sulit untuk mengartikan diri ini sebagai pemuda Islam yang ideal. Namun sulit bukan berarti tidak bisa sama sekali, sulit bukan berarti tidak ada, tetapi sulit berarti banyak rintangan dan cobaan yang harus di hadapi. Pemuda Islam yang ideal takkan pernah putus asa untuk mencapai kesempurnaan dirinya, pemuda Islam yang ideal haramkan gentar untuk melawan sistem yang tak ubahnya seperti perilaku setan, dan pemuda Islam yang ideal akan selalu hadir dalam dunia Islam. Karena sebenarnya, pemuda tersebut ada, dan tersebar di negeri ini, tersebar di dunia ini. Saudaraku, pemuda itu adalah kita. Ya, kita yang akan melawan sistem Kapitalis di negeri ini, kita yang sebentar lagi akan  memperbaiki kemudharatan di negeri ini, dan kita sedang berada dalam perjalanan dakwah menuju dunia yang Islamiyah.  Allahuakbar!
Wassallamu’alaikum Wr. Wb.

Berikan komentar terbaikmu :)

Peradaban Muda . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates